Upacara Pentahbisan Imam Baru Termasuk Langka...!
|
Minggu 4 Nopember 2007 Romo Willem, CP Pastor Kepala
salah satu Paroki di Kalimantan Barat, dalam rangka
perjalanan cuti liburan ke Flores setelah 9 tahun
tanpa istirahat bertugas di Kalimantan, sengaja mampir
ke Gereja Tuka, Gereja Katolik tertua
di Bali, yang terletak hanya beberapa ratus meter
dari Seminari Roh Kudus Tuka. Romo Krist Ratu, SVD
Pastor Kepala Paroki Tuka, yang sudah 10 tahun tidak
bertemu dengan rekannya Romo Willem, mengajaknya untuk
turut membantu mempersembahkan Misa Kudus bersama-sama
pada jam 08:00 pagi. Pada Misa itu Romo Willem mendapat
kesempatan memberikan khotbah kepada umat Paroki Tuka
yang menghadiri Misa tersebut. Dalam khotbahnya Romo
Willem menyatakan bahwa ia orang Flores merasa bingung
karena Misa diselenggarakan dalam bahasa Bali. "Misa
pertama bingung, Misa kedua tambah bingung",
ujarnya. Kemudian beliau menjelaskan tentang
"Waosan Injil : Injil Yesus Kristus Manut Sang Lukas
(19:1-10}" ( bahasa Bali ) yaitu tentang
Zakeus yang naik ke atas pohon untuk melihat Yesus,
tetapi dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Kesempatan
itu juga dipergunakan untuk ber-cerita sepintas tentang
pengalaman beliau selama bertugas di Kalimantan Barat.
Disana karena kekurangan tenaga Pastor, Romo Willem terpaksa
menggembalakan umat paroki yang jumlahnya 26 ribu
orang serta mencakup daerah yang luas, hanya sendirian.
Sampai-sampai ada umat yang mengatakan kalau di
supermarket ada yang menjual Pastor, berapapun harganya
akan dibeli. Dan repotnya, karena kesadaran umat masih
kurang, kolektenya sangat minim, untuk mengumpulkan
1 juta rupiah saja per minggu susah, dibandingkan
dengan Paroki Tuka yang mencapai 2 juta per minggu
padahal jumlah umatnya hanya 1600 orang. Beruntung,
Pemda Kabupaten disana baik hati, bantuan mengucur
sesuai dengan prosentase jumlah umat katolik yang
ada di Kabupaten, dan ini tentunya merupakan bentuk
bantuan yang bijaksana dari pemerintah daerah yang sesuai
dengan falsafah negeri kita yaitu Pancasila.
Romo Deni, Rektor Seminari Menengah Roh Kudus, sedang membujuk anak-anak SEKAMI agar mau jadi Pastor
|
Ya, kita umat katolik saat ini memang kekurangan Imam atau
Pastor. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga diluar
negeri. Dahulu para misionarislah yang datang ke negeri
kita, kini kitalah yang mesti datang ke negeri mereka
di saat mereka tengah dilanda krisis imam dan kaum
religius. Untuk menjadikan seorang Pastor, perlu waktu
yang sangat lama, dan tingkat keberhasilan seorang
calon Pastor ( Seminarian ) untuk benar-benar menjadi
Pastor ( ditahbiskan ) prosentasenya kecil.
Kita memang sedang mengalami "Krisis
Panggilan".
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi
krisis panggilan tersebut ? Sebagai warga Gereja Katolik yang
tentu saja membutuhkan Pastor, maka kita semua harus
bertanggung jawab... ! Bayangkan saja kalau ada Paroki yang tidak mempunyai
Pastor yang seharusnya mempersembahkan Misa setiap hari Minggu, kan umatnya
jadi bingung ? Oleh karenanya, karena umat di setiap Paroki
diwakili dalam Dewan Paroki, maka semestinyalah
Dewan Paroki mendorong agar anak-anak di Parokinya
ada yang terpanggil dan dibantu untuk bisa masuk ke Seminari, bagaimana
caranya terserah, pasti ada spesialisnya di setiap
Dewan Paroki. Bukan hanya itu, untuk Paroki yang berada
( mampu ) , seharusnya mereka memberikan beasiswa
kepada anak-anak dari keluarga yang kurang mampu yang
berminat masuk ke Seminari. Kalau suatu Paroki bisa
membangun gedung Gereja dengan biaya milyaran rupiah,
apakah tidak mampu memberikan beasiswa 500 ribu rupiah
per bulan kepada Seminarian yang diharapkan akan dapat
menjadi Pastor dikemudian hari ? Ini untuk membantu mengatasi Krisis
Panggilan lho... ! Yah, semoga hal ini dapat menjadi
salah satu alternatif cara untuk
"Mencari
Kunci Dalam Gelap" seperti yang telah diulas
oleh Romo Deni