SEMINARI BAGIKU
By: Jo
Adik-adik SEKAMI dari Paroki di Bali sedang mengikuti Open House
Minggu Panggilan di Seminari Menengah Roh Kudus, mudah-mudahan banyak yang terpanggil
|
Bagi saya seminari adalah suatu
tempat untuk mendidik, membina dan menuntun orang-orang
yang mau menjawabi panggilan Tuhan untuk menjadi rohaniwan
maupun biarawan. Memang tidak semua orang yang masuk
seminaris pasti menjadi imam, tetapi setidaknya karena
sudah dibingkai oleh kehidupan (kegiatan maupun aturan)
di seminari tentu para awam yang tamatan seminari
akan menampakan iman yang baik (walaupun tidak semua
tapi kebanyakan dari mereka begitu).
Di seminari saya hidup bersama dengan teman-teman yang
tentu saja beda suku dan beda tujuan. Memang ada yang
betul-betul masuk seminari untuk menjadi seorang romo
(pastor), tetapi ada pula yang masuk seminari hanya
sekedar mau menimba ilmu. Hal ini sempat membuat saya
bingung dengan teman-teman saya, dan akhirnya menimbulkan
pertanyaan dalam benak saya, karena awalnya saya kira
semua orang yang masuk seminari itu pasti mempunyai
tujuan yang sama yakni menjadi seorang pastor, tetapi
ternyata sangat berbeda dengan kenyataan. Namun hal
ini tidak mengurangi rasa kebersamaan para seminarist
termasuk saya. Saya merasa sangat bahagia karena bisa
masuk seminari, karena di seminari lebih banyak suka
dari pada dukanya. Bagi saya, hal ini terjadi karena
di seminari rasa persaudaraan terjalin sangat erat sehingga
kesusahan seorang adalah kesusahan bersama dan kebahagiasn
seorang adalah kebahagiaan bersama pula.
Kebersamaan di seminari pula telah mengajarkan kepada
saya untuk dapat membagi suka dan duka saya ke teman-teman.
Sebelum saya masuk seminari saya termasuk orang yang
sedikit tertutup, tetapi begitu masuk seminari akhirnya
saya mulai belajar untuk terbuka dan menerima baik kelebihan
maupun kekurangan sebagai sesuatu yang harus dilengkapi
bersama dengan teman-teman di seminari. Saya menyadari
bahwa ketidaksempurnaan sebenarnya telah memanusiawikan
hidup saya dengan sesama.
Seminari sungguh telah menjadi suatu tempat yang membawa
perubahan dan pembaharuan dalam diri saya. Ketika masuk
seminari pertama kali, saya sangat bersemangat dalam
panggilan saya. Namun seiring dengan berjalannya waktu
terkadang saya merasa kering dengan panggilan saya,
tetapi dengan berbagai kegiatan dan fasilitas yang ada
di seminari, saya pun bisa menyadari bahwa kekeringan
panggilan adalah sesuatu yang harus diisi dengan hal
positif seperti berdoa, bermain musik, menulis, refleksi,
dan lain-lain. Dan saya juga percaya bahwa disaat saya
kering dalam panggilan doa adalah sesuatu hal yang sangat
membantu saya. Di sini saya menyadari bahwa seminari
juga sebagai tempat untuk menguji panggilan saya. Keadaan
kering itu jugalah yang membuat saya bisa menyadari
bahwa sebagai manusia bisa berusaha dan pada akhirnya
Tuhanlah yang menentukan. Sehingga selain berusaha saya
juga mengandalkan penyelenggaraan Ilahi dalam hidup
perjalanan penggilan saya.
Panggilan adalah suatu misteri dalam hidup setiap orang
yang mau menjawabinya. Oleh sebab itu, seminari merupakan
tempat yang baik untuk dapat mengerti misteri panggilan
sekaligus tempat untuk memanusiwikan hidup dengan sesama.