|
Selain Pater Shadeg, nama sosok yang satu ini tak bisa
dilepaskan dari sejarah Seminari Tuka. Ibet, begitu ia
biasa dipanggil, lahir di Cimacan, Jawa Barat tanggal 1
Juli 1954. Setelah menamatkan seminari menengah di Stella
Maris Bogor, ia masuk noviat
OFM (Ordo Fratrum Minorum)
atau dikenal sebagai Fransiskan
di Yogyakarta. Studi fi lsafat
diselesaikannya di STF Driyarkara-
Jakarta. Ia menjalani Tahun
Pastoral di Borong-Manggarai-
Flores, lantas mengikuti studi
teologi di Kentungan Yogyakarta.
Enam bulan sebelum kaul (profesi)
kekalnya, ia memutuskan untuk
keluar dari OFM.
Sebelum bergabung menjadi
calon imam Keuskupan Denpasar,
ia pernah bekerja selama 2 tahun
di Kantor Wali Gereja Indonesia.
Tahun 1984 ia tiba di Seminari
Tuka sebagai Prefek (pamong)
SMA Seminari. Bersama Br.
Markus Rodjasuka SVD yang
bertugas sebagai pamong SMP,
ia mulai menata kehidupan dan
fasilitas Seminari Tuka.
Akhirnya
15 Agustus 1986, ia ditahbiskan imam di Gereja Tritunggal
Mahakudus Tuka oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD. Setahun
kemudian ia diangkat sebagai Rektor Seminari Roh Kudus
menggantikan Rm. Marsel Myarsa, Pr.
17 tahun lamanya ia pernah bertugas di Seminari Tuka.
Banyak hal yang telah ia lakukan. Hal yang paling dikenang
oleh para mantan anak didiknya ialah menyediakan air yang
limpah. Sejak itu kebersihan dan kesehatan para seminaris
sungguh-sungguh terjamin. Sering kali ia turun tangan untuk merawat dan mengobati para seminaris yang sakit atau
memberi contoh bagaimana hidup yang bersih itu. Kondisi
makanan juga perlahan mulai dibenahi. Fasilitas-fasilitas satu
persatu mulai diperbaiki dan merubah wajah seminari yang
terkesan kuno serta angker.
Mantan Vikjen dan Administrator Keuskupan Denpasar ini dikenal sebagai sosok pendoa yang luar biasa. Ketenangan
dan kesabarannya dalam mendengarkan keluhan adalah ciri
yang melekat padanya. Selain itu ia mengubah pelinggih
(gua) Maria Fatima Seminari Tuka menjadi tempat ziarah
rohani bagi umat di sekitarnya.
Tradisi prosesi Maria Fatima tanggal
13 dalam bulan dimulai sejak ia
ditahbiskan menjadi imam.
Tak dinyana justru tempat inilah
yang membuat Seminari Tuka
dikenal dan dibanjiri banyak orang.
Orang dari mana-mana datang
untuk berdoa dan membawa
pulang air dari tempat itu. Banyak
orang merasa doanya terkabul atau
kesulitannya terpecahkan berkat
Bunda Maria Fatima. Banyak dari
mereka kemudian menjadi donatur
Seminari dan membantu kehidupan
seminaris sebagai orang tua asuh.
Berkat tradisi Maria Fatima itu pula
banyak orang tua dari mana-mana
menyekolahkan anaknya di situ.
Tercatat hampir separuh dari total
jumlah peserta dididik Seminari
Tuka ada dalam periode Rm. Hady.
Sejak itu Seminari Tuka bukan saja
milik orang Bali tapi juga orang dari berbagai tempat.
Kelas berlantai tiga –satu-satunya dan pertama- menjadi
gedung paling mentereng membuat Seminari Tuka terlihat
dari mana-mana merupakan peninggalan Rm. Hady.
Namun
prestasi paling besar adalah 15 imam tamatan SMA Seminari
Tuka yang merupakan mantan anak didik Beliau. Ketekunan
dalam doa serta totalitas dalam karya menjadi motto hidup
Romo Hady yang menjabat rektor Seminari Tuka hingga 2001.
Ketika ditanyakan mengapa ia seperti kurang perhatian
dengan Seminari sekarang, ia hanya mejawab: ”Sangat sulit
untuk bisa melepaskan apa yang sudah kita hidupi 17 tahun,
tapi saya harus bisa lepas-bebas. Saya harus percaya ada
orang lain yang bisa mengurus Seminari itu, dan tentu jauh
lebih baik lagi. Kini waktunya mereka yang muda-muda untuk
mengurusnya!” |