buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
"Harus Lepas Bebas...."
Dikutip dari majalah Agape edisi April 2008.

Rm. Hubertus Hady Setiawan, Pr:

Selain Pater Shadeg, nama sosok yang satu ini tak bisa dilepaskan dari sejarah Seminari Tuka. Ibet, begitu ia biasa dipanggil, lahir di Cimacan, Jawa Barat tanggal 1 Juli 1954. Setelah menamatkan seminari menengah di Stella Maris Bogor, ia masuk noviat OFM (Ordo Fratrum Minorum) atau dikenal sebagai Fransiskan di Yogyakarta. Studi fi lsafat diselesaikannya di STF Driyarkara- Jakarta. Ia menjalani Tahun Pastoral di Borong-Manggarai- Flores, lantas mengikuti studi teologi di Kentungan Yogyakarta. Enam bulan sebelum kaul (profesi) kekalnya, ia memutuskan untuk keluar dari OFM. Sebelum bergabung menjadi calon imam Keuskupan Denpasar, ia pernah bekerja selama 2 tahun di Kantor Wali Gereja Indonesia.

Tahun 1984 ia tiba di Seminari Tuka sebagai Prefek (pamong) SMA Seminari. Bersama Br. Markus Rodjasuka SVD yang bertugas sebagai pamong SMP, ia mulai menata kehidupan dan fasilitas Seminari Tuka.

Akhirnya 15 Agustus 1986, ia ditahbiskan imam di Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD. Setahun kemudian ia diangkat sebagai Rektor Seminari Roh Kudus menggantikan Rm. Marsel Myarsa, Pr. 17 tahun lamanya ia pernah bertugas di Seminari Tuka. Banyak hal yang telah ia lakukan. Hal yang paling dikenang oleh para mantan anak didiknya ialah menyediakan air yang limpah. Sejak itu kebersihan dan kesehatan para seminaris sungguh-sungguh terjamin. Sering kali ia turun tangan untuk merawat dan mengobati para seminaris yang sakit atau memberi contoh bagaimana hidup yang bersih itu. Kondisi makanan juga perlahan mulai dibenahi. Fasilitas-fasilitas satu persatu mulai diperbaiki dan merubah wajah seminari yang terkesan kuno serta angker.

Mantan Vikjen dan Administrator Keuskupan Denpasar ini dikenal sebagai sosok pendoa yang luar biasa. Ketenangan dan kesabarannya dalam mendengarkan keluhan adalah ciri yang melekat padanya. Selain itu ia mengubah pelinggih (gua) Maria Fatima Seminari Tuka menjadi tempat ziarah rohani bagi umat di sekitarnya. Tradisi prosesi Maria Fatima tanggal 13 dalam bulan dimulai sejak ia ditahbiskan menjadi imam. Tak dinyana justru tempat inilah yang membuat Seminari Tuka dikenal dan dibanjiri banyak orang. Orang dari mana-mana datang untuk berdoa dan membawa pulang air dari tempat itu. Banyak orang merasa doanya terkabul atau kesulitannya terpecahkan berkat Bunda Maria Fatima. Banyak dari mereka kemudian menjadi donatur Seminari dan membantu kehidupan seminaris sebagai orang tua asuh. Berkat tradisi Maria Fatima itu pula banyak orang tua dari mana-mana menyekolahkan anaknya di situ. Tercatat hampir separuh dari total jumlah peserta dididik Seminari Tuka ada dalam periode Rm. Hady. Sejak itu Seminari Tuka bukan saja milik orang Bali tapi juga orang dari berbagai tempat. Kelas berlantai tiga –satu-satunya dan pertama- menjadi gedung paling mentereng membuat Seminari Tuka terlihat dari mana-mana merupakan peninggalan Rm. Hady.

Namun prestasi paling besar adalah 15 imam tamatan SMA Seminari Tuka yang merupakan mantan anak didik Beliau. Ketekunan dalam doa serta totalitas dalam karya menjadi motto hidup Romo Hady yang menjabat rektor Seminari Tuka hingga 2001. Ketika ditanyakan mengapa ia seperti kurang perhatian dengan Seminari sekarang, ia hanya mejawab: ”Sangat sulit untuk bisa melepaskan apa yang sudah kita hidupi 17 tahun, tapi saya harus bisa lepas-bebas. Saya harus percaya ada orang lain yang bisa mengurus Seminari itu, dan tentu jauh lebih baik lagi. Kini waktunya mereka yang muda-muda untuk mengurusnya!”

Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia
  Jumlah Pengunjung: