|
Apa hasil Seminari Tuka selama 55 tahun? Selain 37
imam dari hampir 1200 lulusannya, juga 30-an fratres
yang tengah ditempa di berbagai seminari tinggi.
Orang mudah membubuhi kata ”cuman” pada jumlah 37
itu disertai mata terbelalak heran.
Apalagi bila tahu, 7 dari 37
itu pun telah melepaskan imamatnya, dan 2 lainnya sudah
meninggal dunia. Dari 37 itu hanya 2 tercatat bukan orang
asli Bali. Bila orang Bali Katolik tak sampai 5000, maka angka
35 sebenarnya menjadikan Bali sebagai daerah penghasil
imam dalam prosentase tertinggi di Indonesia. ”Cuman 37” dari 1200 sebetulnya menunjuk pada sejarah
yang sarat. Dari sang pendiri, Pater Norbert Shadeg SVD
pernah terungkap kalau Seminari Tuka lebih merupakan
’milik’ para misionaris SVD asal Amerika. Shadeg yang
datang ke Bali tahun 1949 bersama Pater Joseph Flaska
SVD menggagas dan mencarikan sendiri dana dari Amerika
bagi berdirinya sekolah ini.
Kurangnya dukungan dari SVD
sebagai serikat dikarenakan telah didirikannya 3 Seminari
Menengah di Flores oleh SVD (Kisol, Mataloko, dan Hokeng).
Lagipula jumlah orang Katolik di Bali tidak terlalu signifikan
bagi sebuah seminari. Demikian Shadeg bersama Flaska
atas dukungan Mgr. Hermens bersikeras bahwa di Bali
perlu didirikan sebuah seminari. Mereka bahu-membahu
mempertahankan kelangsungan Seminari ini melewati
beberapa fase suram di mana sekolah ini nyaris ditutup
karena ketiadaan dana dan tenaga. Pernah pula di tahun
1959, Pater L. Marks SVD, seorang misionaris Amerika yang
datang kemudian menggantikan Shadeg yang tugas studi
sekaligus untuk menghimpun dana di Amerika.
Dari testimonium alumni fase awal Seminari terungkap
bahwa sekolah seminari itu adalah sekolah gratis: ”Pokoknya
datang saja dan tinggal di sana!” Juga ketika melanjutkan ke
Magelang (Mertoyudan) atau Blitar (Garum), atau ke Flores,
mereka tidak pernah tahu siapa yang bayar, pokoknya sekolah
ke sana. Rupanya itu semua karya Shadeg yang berkayakinan
bahwa dengan memberikan pendidikan bagi para putera Bali
sebagian dari problem kemiskinan umat teratasi.
Membandingkan dengan jaman dulu, banyak
alumni menggambarkan kehidupan seminaris saat ini
sebagai mewah, bertabur fasilitas dan kemudahan, tapi
menghasilkan anak-anak manja, lembek, dan kurang gigih.
Apakah situasi dulu yang gratisan dan dibalut serba-kurang
membuat para seminaris dulu lebih nrimo dan punya motivasi tinggi untuk maju dibanding sekarang?
”Cuman 37” dari 1200 bertalian dengan visi pendirinya
bahwa Seminari ini bukan saja untuk menyiapkan para calon
imam pribumi, tetapi juga untuk memberikan pendidikan
bagi para putera Bali. Dalam perjalanan kerap terjadi yang
kedua menjadi lebih penting dari yang pertama. Seperti
pada saat Rm. Hubert Hady menjadi Rektor tahun 1987-2001.
Tercatat jumlah 515 siswa (mendekati separuh dari total
alumni 1188) selama periode Beliau, sedangkan yang ke
Seminari Tinggi tidak banyak.
Seminari lebih sebagai tempat
penampungan untuk orang-orang yang coba-coba, bahkan
banyak anak-anak yang ”dititipkan” oleh orang tuanya
karena tak sanggup dididik. Seleksi tidak ada. Kalaupun ada,
sifatnya hanya formalitas. Arah pembinaan dan pendidikan
juga tidak terlalu jelas. Pokoknya sekolah, lalu tamat, lantas
ke seminari tinggi atau kuliah di luar. Profil imam seperti
apa yang dimaksudkan dari keseluruhan pembinaan dan
pendidikan di Seminari Tuka, tidak pernah terpikirkan.
Semuanya jalan saja apa adanya.
Maka tak heran jumlah 37
begitu kecilnya dibanding jumlah 1200.
Pada periode rektorat Shadeg, banyak juga alumni
Seminari Tuka yang melanjutkan hingga ke seminari
tinggi. Banyak dari mereka pernah menjalani Tahun
Orientasi Pastoral (TOP) di alma mater mereka, Seminari
Tuka. Dari semua fratres alumni yang pernah menjalani
TOP, tak satupun sampai ke imamat. Ada banyak alasan
tentunya. Namun dari sharing mereka terungkap akan
kurangnya pendampingan dari para seniornya.
Keseluruhan
kompleksitas pembinaan dari pra maupun post-imamat
rupanya bermuara pada soal pendampingan dan teladan.
Itulah sebabnya dari 7 alumni imam, 6 keluar pada waktu
usia imamat di bawah 10 tahun. Karena itu ”Cuman 37” mengungkap juga problem kurangnya pendampingan dan
teladan entah itu selama di Seminari, maupun sesudah
ditahbiskan imam. Apakah karena kurangnya tenaga imam?
Ataukah karena figur imam pada waktu itu kurang inspiring
para calon imam atau imam yunior? SW |