buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
Teropong: Cuman 37?
Dikutip dari majalah Agape edisi April 2008.

Apa hasil Seminari Tuka selama 55 tahun? Selain 37 imam dari hampir 1200 lulusannya, juga 30-an fratres yang tengah ditempa di berbagai seminari tinggi. Orang mudah membubuhi kata ”cuman” pada jumlah 37 itu disertai mata terbelalak heran.

Pater Norbert Shadeg, SVD (alm.)

Apalagi bila tahu, 7 dari 37 itu pun telah melepaskan imamatnya, dan 2 lainnya sudah meninggal dunia. Dari 37 itu hanya 2 tercatat bukan orang asli Bali. Bila orang Bali Katolik tak sampai 5000, maka angka 35 sebenarnya menjadikan Bali sebagai daerah penghasil imam dalam prosentase tertinggi di Indonesia. ”Cuman 37” dari 1200 sebetulnya menunjuk pada sejarah yang sarat. Dari sang pendiri, Pater Norbert Shadeg SVD pernah terungkap kalau Seminari Tuka lebih merupakan ’milik’ para misionaris SVD asal Amerika. Shadeg yang datang ke Bali tahun 1949 bersama Pater Joseph Flaska SVD menggagas dan mencarikan sendiri dana dari Amerika bagi berdirinya sekolah ini.

Kurangnya dukungan dari SVD sebagai serikat dikarenakan telah didirikannya 3 Seminari Menengah di Flores oleh SVD (Kisol, Mataloko, dan Hokeng). Lagipula jumlah orang Katolik di Bali tidak terlalu signifikan bagi sebuah seminari. Demikian Shadeg bersama Flaska atas dukungan Mgr. Hermens bersikeras bahwa di Bali perlu didirikan sebuah seminari. Mereka bahu-membahu mempertahankan kelangsungan Seminari ini melewati beberapa fase suram di mana sekolah ini nyaris ditutup karena ketiadaan dana dan tenaga. Pernah pula di tahun 1959, Pater L. Marks SVD, seorang misionaris Amerika yang datang kemudian menggantikan Shadeg yang tugas studi sekaligus untuk menghimpun dana di Amerika.

Dari testimonium alumni fase awal Seminari terungkap bahwa sekolah seminari itu adalah sekolah gratis: ”Pokoknya datang saja dan tinggal di sana!” Juga ketika melanjutkan ke Magelang (Mertoyudan) atau Blitar (Garum), atau ke Flores, mereka tidak pernah tahu siapa yang bayar, pokoknya sekolah ke sana. Rupanya itu semua karya Shadeg yang berkayakinan bahwa dengan memberikan pendidikan bagi para putera Bali sebagian dari problem kemiskinan umat teratasi.

Membandingkan dengan jaman dulu, banyak alumni menggambarkan kehidupan seminaris saat ini sebagai mewah, bertabur fasilitas dan kemudahan, tapi menghasilkan anak-anak manja, lembek, dan kurang gigih. Apakah situasi dulu yang gratisan dan dibalut serba-kurang membuat para seminaris dulu lebih nrimo dan punya motivasi tinggi untuk maju dibanding sekarang?

”Cuman 37” dari 1200 bertalian dengan visi pendirinya bahwa Seminari ini bukan saja untuk menyiapkan para calon imam pribumi, tetapi juga untuk memberikan pendidikan bagi para putera Bali. Dalam perjalanan kerap terjadi yang kedua menjadi lebih penting dari yang pertama. Seperti pada saat Rm. Hubert Hady menjadi Rektor tahun 1987-2001. Tercatat jumlah 515 siswa (mendekati separuh dari total alumni 1188) selama periode Beliau, sedangkan yang ke Seminari Tinggi tidak banyak.

Seminari lebih sebagai tempat penampungan untuk orang-orang yang coba-coba, bahkan banyak anak-anak yang ”dititipkan” oleh orang tuanya karena tak sanggup dididik. Seleksi tidak ada. Kalaupun ada, sifatnya hanya formalitas. Arah pembinaan dan pendidikan juga tidak terlalu jelas. Pokoknya sekolah, lalu tamat, lantas ke seminari tinggi atau kuliah di luar. Profil imam seperti apa yang dimaksudkan dari keseluruhan pembinaan dan pendidikan di Seminari Tuka, tidak pernah terpikirkan. Semuanya jalan saja apa adanya.

Maka tak heran jumlah 37 begitu kecilnya dibanding jumlah 1200. Pada periode rektorat Shadeg, banyak juga alumni Seminari Tuka yang melanjutkan hingga ke seminari tinggi. Banyak dari mereka pernah menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di alma mater mereka, Seminari Tuka. Dari semua fratres alumni yang pernah menjalani TOP, tak satupun sampai ke imamat. Ada banyak alasan tentunya. Namun dari sharing mereka terungkap akan kurangnya pendampingan dari para seniornya.

Keseluruhan kompleksitas pembinaan dari pra maupun post-imamat rupanya bermuara pada soal pendampingan dan teladan. Itulah sebabnya dari 7 alumni imam, 6 keluar pada waktu usia imamat di bawah 10 tahun. Karena itu ”Cuman 37” mengungkap juga problem kurangnya pendampingan dan teladan entah itu selama di Seminari, maupun sesudah ditahbiskan imam. Apakah karena kurangnya tenaga imam? Ataukah karena figur imam pada waktu itu kurang inspiring para calon imam atau imam yunior? SW

Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia
  Jumlah Pengunjung: