|
Pendidikan Seminari beda dengan pendidikan pada umumnya. Menurut I Gusti Putu Oka
(77 tahun), mantan pendidik Seminari Roh Kudus Tuka, pendidikan di Seminari sangat
membutuhkan keteladanan hidup dari para pendidiknya. Bagaimana kesan beliau
semasa menjadi guru di Seminari, dan keteladanan hidup yang bagaimana? Serta apa
harapannya? Simak rangkuman wawancara Blasius dari Agape berikut:
|
Ceritera panjang tentang Seminari
Roh Kudus - Tuka, menurut
mantan pendidik SGB (Sekolah
Guru Bawah) Denpasar - tahun 1950-
an, dapat dibaca dalam catatan sejarah
yang diarsipkan begitu rapih oleh
almarhum Pater Norbertus Shadeg,
SVD di Perpustakaan Widya Wahana-
Tuka. Akan tetapi secara singkat dapat
dikatakan berdirinya Seminari Roh
Kudus Tuka sesungguhnya bermula
dari pemikiran para fundatornya,
antara lain : Pater Norbert Shadeg,
SVD dan Mgr.Hermens,SVD. Dalam
sebuah perjalanan misi ke Bali, di atas
kapal, mereka mencita-citakan bahwa
untuk mengembangkan karya misi
di Bali yang berhasil, harus didukung
dengan tenaga-tenaga imam pribumi.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut,
kemudian didirikan sebuah Seminari
Menengah, dengan nama Seminari Roh
Kudus, yang pada awalnya berada di
Tangeb. Perkembangan selanjutnya
Seminari ini kemudian dipindahkan ke
Tuka sampai saat ini, meskipun untuk
tingkat SMA masih bergabung dengan
SMAK St. Thomas Aquino Tangeb.
Hidup Sederhana
Dari sekian banyak kesan (positif
dan negatif ) yang dialami selama
mengabdi di Seminari Roh Kudus, ada
satu hal yang begitu kuat diingat oleh
Putu Oka yakni Hidup Sederhana. Pola
hidup sederhana dipengaruhi oleh
keadaan umat waktu itu masih sangat
miskin, dan kehidupan Seminari pun
dibiasakan dengan hidup sederhana.
Meskipun berhadapan dengan keadaan
yang demikian, namun hasil tamatan
Seminari waktu itu bisa dibanggakan.
Mereka yang tamat pada masa itu
cukup banyak yang melanjutkan ke
Seminari Mertoyudan tanpa merasa
tertinggal dari teman-teman lain yang
berasal dari Jawa. Dari antara mereka
ada yang menjadi imam dan yang
lainnya menjadi awam-awam yang
tangguh. Karena itu kebiasaan hidup
sederhana juga merupakan hal positif
dalam menempa ketahanan mental dan
kepribadian para Seminaris.
Keteladanan Hidup Faktor Terpenting!
Ada sekian banyak faktor yang
mendukung keberhasilan pendidikan
di Seminari. Namun menurut Putu
Oka, Keteladanan Hidup para pendidik
Seminari menjadi faktor paling
penting. Keteladanan yang dimaksud
bukan sekedar hebat dalam mengajar,
melainkan dalam sikap dan perilaku
hidup setiap hari. Sikap dan perilaku
hidup itu antara lain bagaimana
seorang pendidik/guru berusaha
menegakkan budaya hidup disiplin,
dan hidup doa yang teratur baik secara
pribadi maupun dalam komunitas.
Budaya hidup disiplin itu tidak sekedar
diajarkan tetapi harus dipraktekan.
Contoh: Bila sudah bel tanda pelajaran
segera dimulai, guru harus sudah
lebih dahulu berada di ruangan kelas,
jangan masih santai di ruang makan
atau tetap asyik di ruang komputer.
Ini tidak menegakkan disiplin! Lebih
lanjut menurut Putu Oka, para pendidik
juga harus banyak membimbing para
Seminaris untuk mendalami panggilan,
karena Anak-anak Seminari pada
umumnya belum terlalu tahu tentang
panggilan. Hal ini penting untuk
memberikan motivasi kepada mereka
tentang tujuan belajar di Seminari.
Jangan Bubarkan Seminari!
Berbagai kesulitan seringkali kita
dengar tentang mengelolah pendidikan
Seminari. Menurut Putu Oka, kesulitankesulitan
itu seputar, beban biaya yang
semakin tinggi. Kalau dulu masuk
Seminari tidak bayar, sekarang harus
dibiayai sendiri oleh orangtua. Kesulitan
lain soal menurunnya minat masuk
Seminari yang pada ujungnya terjadi
penurunan panggilan menjadi Imam.
Hal ini selain disebabkan oleh faktor
Ekonomi tetapi juga oleh tawaran
pendidikan bermutu dewasa ini yang
begitu banyak untuk dipilih, sehingga
berpengaruh pada penurunan minat
untuk masuk ke Seminari.
Meski demikian banyak kesulitan, namun Putu Oka berpendapat, "Jangan
bubarkan Seminari!". Karena, selain untuk
menuai panggilan menjadi Imam sesuai
semangat awal mendirikan Seminari,
yakni agar mendapatkan imam-imam
pribumi yang membantu karya misi
di Keuskupan Denpasar; pendidikan
di Seminari juga sangat berguna bagi
mereka yang tidak terpanggil menjadi
Imam. Mereka yang tidak terpanggil
menjadi imam terbukti banyak menjadi
awam yang baik, karena bekal pendidikan
Seminari yang telah mereka dapatkan.
Orientasi/Impian ke Depan
Beberapa pemikiran penting dari
Putu Oka tentang impian terhadap
pendidikan Seminari ke depan antara
lain: Pertama, Jadikan Seminari
Roh Kudus sebagai tanggungjawab
dari semua umat. Bila semua umat
bertanggungjawab terhadap Seminari
maka kesulitan-kesulitan yang dialami
pasti dapat ditanggulangi bersama.
Misalnya kalau ada anak yang mau
masuk Seminari tetapi secara ekonomi
orangtuanya tidak mampu, maka perlu
ada aksi solidaritas dari semua umat
untuk membantunya. Kedua, Rekrut
para pendidik maupun para siswa
Seminari yang berkualitas, jangan
asal kasihan, karena hal ini akan
berpengaruh pada hasilnya nanti.
Ketiga, Budayakan disiplin dalam
keseluruhan proses hidup di Komunitas
Seminari. Keempat, Tananmkan
orientasi para Seminaris pada tiga
unsur penting dalam pendidikan di
Seminari yang harus diperhatikan yakni:
Sanitas/kesehatan lahir dan batin,
Sanctitas/ hidup kudus, dan Scientia/
pengetahuan. Dan kelima, bagi seluruh
umat, buatlah gerakan atau wadah
di masing-masing paroki/stasi, yang
dapat mengumpulkan Anak-anak untuk
berdoa, dan memperkenalkan kepada
mereka tentang panggilan hidup
membiara, menjadi Imam/Rohaniwan
dan menjadi Suster/Rohaniwati. Sebab
bagaimana mereka tahu kalau kita tidak
memberitahu kepada mereka!
Suksema! (Blasius)
|