Gedung Seminari Menengah Roh
Kudus. |
Di malam menjelang subuh Giovanni Battista Enrico Antonio
Maria Montini menulis suratnya. Konsili Vatikan II tengah
berlangsung tapi perubahan yang dipicunya cukup mencemaskan.
Gereja kehilangan begitu banyak klerus dan religius yang tidak
bisa menerima perubahan itu. Surat itu lalu dibacanya pada
Minggu Paskah IV, 11 April 1964, sekitar 8 bulan sejak
dilantik sebagai Paus Paulus VI. "Pregate il padrone della messe, affinché
mandi operai per la sua Chiesa" (bdk Mat. 9, 38),
cetusnya. Umat dimintanya berdoa kepada “Tuan Panenan” agar
gerejaNya tetap memiliki pekerja-pekerja untuk tuaianNya.
Sejak itu tradisi Hari Doa untuk Panggilan Sedunia diteruskan
saban Minggu Paskah IV; lazim disebut Hari Minggu Panggilan.
Tiap kali Injil yang dipilih mengenai “Yesus Gembala yang
Baik”, lantas disebut “Hari Minggu Gembala yang Baik.” Tiap
umat didesak untuk terlibat dalam panggilan: lewat doa, derma
maupun kerelaan menjadi yang terpanggil.
Pastor RD. Benediktus Deni Mary, Pr. Rektor Seminari Menengah Roh
Kudus
|
Di tahun 2007 ini dirayakan Hari Minggu Panggilan ke-44.
Paus Benedictus XVI dalam pesannya mengingatkan pentingnya
“panggilan untuk melayani Gereja sebagai komunio” (the vocation to the service of the Church as
communion). Kita diajak untuk ikut memikirkan dan
terlibat dalam “keprihatinan” gereja universal: minimnya mutu
juga jumlah imam. Dan kaum religius. Keuskupan Denpasar
sebagai bagian dari komunio Gereja Universal pun diminta
terlibat.
Ada hari di mana yang lokal mesti ingat bahwa ia bagian
dari yang universal. Bahwa kita tidak saja “menerima”
(recieving) tetapi harus pula “memberi” (giving). Dahulu para
misionarislah yang datang ke negeri kita, kini kitalah yang
mesti datang ke negeri mereka di saat mereka tengah dilanda
krisis imam dan kaum religius. Guna merayakan Hari Minggu
Panggilan ke-44 inilah Komisi Panggilan dan Seminari Keuskupan
Denpasar mengemas sebuah konser panggilan yang bertemakan:
“Gereja Memerlukan Anda” (We Need You!).
Taman Bunda Maria di Komplex Seminari Menengah Roh Kudus
|
Ide awal konser ini berasal dari para frater pastoral di
Seminari Tuka yang ingin memelihara tradisi tahunannya untuk
menampilkan kreasi para seminaris dalam bentuk konser. Gayung
bersambut, ide ini ditanggapi oleh pihak Komisi Panggilan
untuk merancangkan sebuah konser panggilan yang juga
melibatkan banyak anak muda selain siswa seminari Tuka.
Banyak keluhan kita dengar tentang makin minimnya minat
orang muda akan panggilan. Keluhan itu perlu ditanggapi bukan
saja dengan membenahi pola pembinaan dalam keluarga, melainkan
juga dengan menemukan terobosan baru cara-cara promosi
panggilan yang bisa berdialog dengan dunia kaum muda kita.
Jika pilihan yang diambil tepat, maka buahnya akan terus
berlangsung dalam jangka panjang. Inilah prinsip leverage.
Sebuah prinsip yang dilukiskan untuk menemukan “celah” kunci.
Dengan menerobos celah ini, dan dengan enerji kecil saja,
perubahan besar terjadi.
Misa dalam rangka Minggu Panggilan 2008 di Kapel Seminari, diikuti anak-anak Sekami dari Paroki-Paroki
di Keuskupan Denpasar.
|
Pertanyaannya, apakah konser panggilan ini bisa
dikategorikan telah menerapkan prinsip leverage? Atau, apakah
konser ini merupakan hasil kreatif yang akan memberikan dampak
luas dan panjang? Dari sisi tema pastoral tahun 2007 (KBG dan
Kepemimpinan Pastoral), apakah konser ini bisa menjadi sarana
pencarian bibit-bibit pemimpin pastoral di masa depan? “Celah”
yang begitu kita harapkan selalu merupakan benda yang tak
mudah ditemukan. Benda itu tak nampak di permukaan. Orang
biasa tidak akan mampu melihat dan mengenalinya. “Celah kunci”
ini hadir dalam wujudnya yang samar. Memahami bagaimana cara
kerja pesawat terbang lepas landas adalah perkara rumit untuk
awam. Salah satu kunci terletak pada sayap pesawat. Ketika
sayap memberikan tekanan ke samping, pesawat justru terangkat
ke atas. Perkara ini tidak akan terlihat sama sekali untuk
awam. Orang harus terlebih dahulu mempelajari aerodinamika
untuk memahaminya. Anologi ini mirip dengan pencarian
cara-cara promosi panggilan di jaman ini. Inilah yang membuat
hidup dan karya Gereja menjadi menarik dan menantang.
Kapel Seminari Menengah Roh Kudus
|
Telah sekian lama kita dinilai tidak berkembang. Gereja
mandeg, tidak membuat inovasi dan kreativitas baru. Kita terus
mengalirkan dana, energi, dan waktu untuk karya-karya yang
lama. Sekarang –dalam banyak kasus- Gereja dipaksa menelan
secara langsung kebenaran, “Yang kemarin kita anggap solusi
dan keberhasilan, hari ini menjadi sumber problem”. Nasihat
yang bisa kita ambil adalah apa yang tepat kemarin untuk
memperoleh keberhasilan, tidak bisa diterapkan untuk hari ini.
Jika ini tetap dilakukan, hasilnya semakin buruk. Semakin
keras kita kerja, semakin buruk hasil yang kita peroleh.
Karena kita ada di jalan yang keliru.
Pernah kita dengar kisah si pemabuk yang mencari kunci
kamar di dalam rumah meski ia menjatuhkan kunci itu di luar
rumah. Jawabnya pada sang sufi yang heran: “Karena di dalam
rumah ini ada sinar terangnya. Sementara di luaran gelap.”
Konser panggilan ini adalah upaya pencarian kunci di dalam
gelap. Kita harapkan semoga sinarnya bisa memancar luas bukan
saja di Gedung Katedral Denpasar ini tapi juga di
kolong-kolong kehidupan keluarga kita: agar kita sadar bahwa
hidup yang kita geluti ini adalah sebuah penggilan, sebuah
pengabdian. Sadar akan kebutuhan besar bagi tersedianya
pemimpin-pemimpin pastoral - tertahbis dan non-tertahbis, pria
dan wanita - yang handal dan militan, punya visi dan kecintaan
terhadap gereja.
Kepada semua pihak yang telah mencoba menghadirkan terang
dan kesadaran itu di tengah kita, kita sampaikan penghargaan
dan terima kasih yang sedalamnya. Tuhan kiranya memberkati
kerja keras dan pengabdian kalian untuk gerejaNya ini.
Kulihat terang, meski tak benderang,
sehingga gelap lambat laun kan lenyap. Datanglah, cahaya
dihati........... Bawalah, imanku kembali...........
Dari lagu Kupinta Lagi ciptaan Cornel
Simanjuntak |