|
Tahun ini Seminari Menengah Roh Kudus Tuka memasuki usia
yang ke-55. Kita bersyukur karena Tuhan masih tetap menggunakan
Seminari ini untuk menumbuh- kembangkan benih-benih panggilan
dalam diri anak-anak di keuskupan ini. Selain itu perayaan
ulang tahun ke-55 adalah momen tepat untuk mulai memikirkan
langkah-langkah tepat guna menjadikan lembaga ini rumah
pembinaan dan pendidikan yang menyiapkan calon-calon pemimpin
gereja yang handal yang dibutuhkan sekarang dan di masa
depan.
Berbicara tentang Seminari Menengah Roh Kudus Tuka tak
mungkin lepas dari sosok P. Nobert Shadeg SVD. Kerinduannya
agar benih-benih panggilan yang ada dalam diri anak-anak
di Keuskupan Denpasar bertumbuh dan berkembang mendorongnya
untuk membuka Seminari ini tahun 1953. Dengan motivasi
serta dana yang minim, Almarhum berhasil mendirikan beberapa
unit bangunan seperti asrama, ruangan kelas, kapela dan
dapur. Almarhum telah meretas jalan untuk menjadikan Seminari
ini wadah pembinaan bagi anak-anak untuk menjadi imam.
Sebagai ungkapan terima kasih atas dedikasi almarhum Pater
Nobert Shadeg, kita perlu ikutserta bersama para pembina
Seminari melestarikan apa yang telah ia lakukan di masa
lalu.
Lima tahun terakhir bangunan yang dibangun pada tahun
1953 telah direnovasi dan yang lain belum dapat direnovasi
karena ketiadaan dana. Nampaknya dana masih terus dibutuhkan
untuk pembangunan fasilitas-fasilitas yang diperlukan
di samping pembiayaan rutin siswa dan pendidik serta karyawan.
Partisipasi semua pihak untuk mencukupi kebutuhan Seminari
ini kian mendesak sebab sudsidi dari Roma yang selama
ini sangat membantu mengalami penurunan. Partisipasi orang
tua siswa dalam hal pendanaan pun masih jauh dari maksimal.
Permasalahan lain yang perlu diperhatikan adalah peningkatan
mutu pendidikan dan pembinaan kepribadian siswa. Kehadiran
para pendidik yang memadai dan penuh dedikasi masih perlu
diperjuangkan. Jumlah siswa yang meningkat dari tahun
ke tahun tidak saja membutuhkan sejumlah ruangan untuk
kamar tidur dan belajar tetapi juga tenaga pendidik/guru
serta tenaga pembina yang setia mendampingi perkembangan
kepribadian dan kehidupan rohani siswa.
Permasalahan di atas membutuhkan jawaban kita. Kesadaran
bahwa pendidikan calon imam merupakan tanggungjawab kaum
beriman perlu dihidupi. Bila setiap orang mengamini ini
maka beban yang dipikul oleh para pengelola seminari ini
semakin ringan. Cara pikir bahwa Seminari ini milik Uskup
atau para romo perlu kita tinggalkan. Partisipasi kita
dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi lembaga ini
baik moral ataupun materi adalah hadiah yang dapat kita
berikan di hari ulang tahunnya yang ke-55. Aksi nyata
dapat berupa dorongan bagi anak-anak untuk masuk Seminari,
penggalangan dana, bersedia menjadi orang tua asuh bagi
siswa yang orangtuanya kurang mampu, berdoa untuk kepentingan
pengembangan Seminari, dsb. Aksi nyata ini hendaknya menjadi
suatu gerakan kepedulian yang mencakup seluruh wilayah
Keuskupan ini. Dukungan para pastor paroki bersama dewan
pastoral paroki sangat dinantikan.
Selamat merayakan HUT ke-55 Seminari Tuka, semoga Roh
Kudus bersamamu dalam usaha melahirkan calon-calon imam
yang sehat, pintar dan suci.
P. Yoseph K. Wora, SVD
|