buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
Sejarah:
Saatnya BERUBAH

Siapa yang tak kenal Romo yang satu ini? RD. Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta, lahir di Singaraja, 10 November 1961, dari pasangan Yohanes I Gusti Made Suprapta dan Maria Imaculata Sumari. Ayahnya yang berasal dari Puri Sririt Singaraja masih bertalian dengan keluarga Griya Banjar Taen Siat di Jalan Veteran dan Griya Banjar Jro Kuta di Jalan Sutomo.

Romo Wanta, demikian Sekretaris Ekesekutif Komisi Seminari KWI itu dipanggil, menjabat Rektor Seminari dari 2002-2006. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya dalam Hukum Gereja, ia ditugasi untuk memimpin Seminari Tuka. Sejak itu gebrakan demi gebrakan dilakukannya. Ia membentuk tim 8 untuk memberikan masukan dalam hal fasilitas fi sik, termasuk menyiapkan master plan bangunan Seminari. Ia juga membentuk Tim penggalian dana solidaritas untuk Seminari Tuka. Dalam waktu setahun ia harus menyiapkan Perayaan Jubilium Pesta Emas Seminari Tuka 9 Juli 2003.

Kerja kerasnya selama 5 tahun merenovasi hampir semua gedung Seminari, mulai dari Kapel, atap perpustakaan, renovasi kamar mandi, membangun ruang locker, kamar tidur SMP dan SMA, kamar makan, dan mendandani taman Maria Fatima. Sedangkan dari Aksi Solidaritas untuk Seminari Tuka terkumpul uang 1 milyar sebagai dana abadi. Semua rincian biaya dan kertas-kertas penting seputar semua kegiatan itu terdokumentasikan dengan baik. "Supaya suatu saat bila diperlukan, orang tinggal membacanya di situ," ungkapnya soalah menepis suara-suara miring yang meragukan reptuasinya dalam soal keuangan.

"Belum pernah Seminari sebegitu dibicarakan dan diperhatikan banyak orang seperti pada jaman Romo Wanta. Beliau berhasil mengusulkan adanya kolekte Minggu V untuk Seminari. Meski dalam praktek uang kolekte itu tidak jelas peruntukannya, harus diakui itu adalah ide Beliau," ungkap seorang ibu mengkritisi pihak keuskupan.

Tak hanya masalah fi sik dan fi nansial, masalah mutu pendidikan dan pembinaan juga tak luput dari perhatiannya. Untuk itu Romo Wanta menyelenggarakan Workshop Arah dan Program Pembinaan Seminari Tuka 2006-2011, di Aula Susteran OSF Tuka, 7 - 8 Januari 2006. Workshop terbatas itu didampingi dua narasumber dari Paguyuban Gembala Utama (PGU), yang juga para mantan seminaris Mertoyudan, Theodorus Wiryawan dan Agustinus Didiek Dwinarmiyadi. [Butirbutir pemikiran yang terungkap dalam workshop itu pernah dimuat di Agape edisi Februari 2006].

Keprihatinan yang diangkat dalam workshop tersebut: menurunnya minat masuk seminari dan kualitas seminaris yang tak lebih baik dari siswa luar. Sedangkan rekomendasi yang ditelurkan: 1)perlunya pembina fulltimer alias tidak "nyambi" tugas lain; (2)talent inventory review: perlunya mempersiapkan para calon pembina seminari sudah sejak di Seminari Tinggi berdasarkan talenta dan bakat. 3)penegasan unique selling point seminari: sekolah untuk menjadi imam. Peminatnya sedikit tapi demand terhadap output-nya tinggi, dan 4) perlunya gerakan bersama untuk mendukung pembiayaan seminari

Hal yang hangat dibahas dalam workshop tersebut adalah soal kelanjutan SMP Seminari. Banyak usulan untuk menutup program ini atau setidaknya mengubahnya menjadi sekolah asrama biasa dengan berbagai pertimbangan. Ditetapkan juga untuk segera membuka program sekolah SMA Seminari di Tuka.

Dari beragam kenyataan yang mengemuka tentunya menjadi tantangan yang tidak ringan. Untuk itu disarankan oleh narasumber bahwa sebelum pembenahan perlu tahu dulu posisi dan kondisi seminari. Dari sana perubahan itu bergerak.

Dalam pandangan Theodorus Wiryawan, menuju perubahan yang dicita-citakan menuntut lima hal.

  1. tahu kondisi/posisi seminari dibanding sekolah lain. Seminari harus tahu peta sekolah mana yang terbaik dan pantas diperbandingkan; konsekwensinya, harus berani menentukan apa yang perlu dibuang, mana yang perlu ditingkatkan dan apa yang harus diciptakan;
  2. intelektualitas yang terus berkembang;
  3. pendidikan yang mampu mengembangkan cara berpikir inovatif;
  4. pendidikan/pembinaan yang bersifat coaching untuk meningkatkan leadership; serta,
  5. energi yang prima (fisik dan mentalitas yang yang fit). Untuk itu makanan sehat dan latihan terus menerus sangat penting.

Rangkuman workshop awal tahun 2006 itu tentu menjadi masukan berharga untuk memulai suatu perubahan yang diinginkan. Tahun ini, memasuki usia 55 tahun Seminari Tuka, Rektor saat ini, Rm. Benediktus Deni Mary, Pr, beserta para staf pembina ingin mewujudkan beberapa perubahan yang dianggap penting.

Menjawabi soal turunnya minat ke Seminari Tuka, pihak Seminari membuat beberapa terobosan promosi panggilan. Bila pada masa-masa sebelumnya, promosi panggilan hanya melalui animasi atau dialog langsung dengan para orang tua dan anak-anak/remaja, tahun 2007 lalu, sebuah variasi dan krativitas promosi dibuat melalui konser panggilan. Kreasi lain, pekan pertama April 2008, ada 'open house' bagi anak-anak dan remaja dari paroki-paroki di Seminari Tuka.

Buah dari promosi itu cukup nampak, walau belum terlalu maksimal. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah siswa seminari. Bila tahun 2006, saat workshop berlangsung dipaparkan total jumlah siswa SMP, SMA dan KPA saat itu, 56 orang, tahun 2008 ini jumlah keseluruhan siswa 73 orang.

Dalam menjaga kekhasan dan karakter pembinaan seminaris, suatu terobosan baru hendak dilakukan Seminari Tuka, yakni membuka SMA Seminari sendiri, artinya tidak lagi 'dititipkan' di SMAK Thomas Aquino. Menurut Rektor Seminari Tuka, kalau tak ada kendala, otonomi SMA ini akan dimulai sejak 2010. Bila ini terwujud, maka itu bisa menjadi pintu masuk dari saran Wiryawan di atas, mewujudkan perubahan yang dicitacitakan. Termasuk juga saran mengenai tenaga pengajar yang profesional yang mencurahkan perhatiannya secara penuh di seminari.

Pembenahan lainnya adalah soal fungsi strategis asrama. Menurut Rm. Deni Mary, asrama masih menjadi model pembinaan dan pendampingan Gereja yang cukup efektif terutama pembinaan karakter sekaligus pembinaan kader Gereja. Ke depan katanya, fasilitas asrama harus menunjang suasana belajar maupun pembinaan karakter yang dimaksud. Hal ini ingin menjawab pula soal ketegasan orientasi. Bahwa misi utama pendirian seminari memang untuk mendidik orang menjadi imam. Ini tidak boleh dikaburkan oleh alasana apapun. Namun, menjadi imam atau tidak itu adalah pilihan Tuhan sendiri, yang terpenting bagaimana motivasi ini terus dikobarkan kepada para siswa. Yang terutama, penanaman iman yang berkualitas terhadap anak didik harus

Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia

  Jumlah Pengunjung: