|
Seminari Roh Kudus Tuka telah berusia 55 tahun. Dengan usia ini berarti
lembaga pendidikan dasar para calon imam ini telah melewati perjalanan
sejarah yang panjang. Dalam perjalanan itu banyak peristiwa yang terjadi.
Bagaimana kecambah ‘lembaga pesemaian’ calon imam ini tumbuh dan
berkembang sampai sekarang ini?
Dalam tulisan bertajuk ‘Uraian Singkat Mengenai Gereja Katolik di Bali-Lombok
dari 1950-1961’ seperti termuat dalam ‘Bali Mission History, from Various Author’
(Compilation: N. Shadeg, SVD & Sekretariat Widya Wahana, Seri I Part II, hal.30) Pater
Blanken, SVD menulis:…
’dekat Denpasar desa Tangeb tempat tinggal P.J. Kersten,
SVD. pioneer missi Bali/Lombok dipilih untuk menjadi tempat sekolah SMP Katolik
yang pertama di Bali dan Lombok. Pada awalnya dijalankan dengan takut apa akan
dapat menahan dirinya, berdiri terus, berjalan terus dan untunglah tak lama, nama
sekolah itu mulai termasyur juga di antara putera-puteri Bali yang tidak Katolik
hingga sekolah itu terjamin…’
Dalam tulisan itu Pater Blanken juga
menyebutkan, di samping SMP sebagian
dari gedung SMPK Tangeb digunakan
sebagai tempat belajar siswa-siswa SMP
Seminari Roh Kudus.
Dengan demikian
dimulai sebuah tempat pesemaian
panggilan imamat dalam sebuah
prefektur apostolik yang usianya masih
sangat muda yakni baru 20 tahun.
Dalam catatan sejarah pendidikan
di Bali SMPK Tangeb berdiri pada 1
Agustus 1953. Dibukanya SMP Seminari
merupakan langkah berani yang
dilakukan oleh Pater Norbert Shadeg,
SVD misionaris Serikat Sabda Allah
asal Amerika Serikat. Saat itu umur
Prefektur Apostolik Denpasar baru
20 tahun dengan jumlah umat 1874
orang dan 116 katekumen. Setelah tiga
tahun di Tangeb (kini wilayah Paroki St.
Theresia Tangeb), Seminari Roh Kudus
pindah ke Tuka tahun 1956 dan tumbuh
serta berkembang sampai sekarang ini.
Banyak orang tidak mengerti
keberanian Pater Shadeg mendirikan
sebuah sekolah seminari dalam Gereja
yang masih sangat muda. Tetapi
Pater Norbert Shadeg SVD rupanya
punya pertimbangan lain. Dalam ‘The Christian Family’ (Bali Mission
Series No 9 Denpasar, 1990 halaman
37) Pater Shadeg menulis; ‘…inilah
impian misiologis seorang misionaris
untuk menjadi tidak dibutuhkan lagi
sesudah gereja lokal berkembang dan
sampai pada suatu tahap otonomi
dan kematangan yang memadai.
Tahun 1953 merupakan privilese saya
untuk membuka sebuah seminari kecil
pertama di pulau ini…’
Impian misiologis misionaris Pater
Norbert Shadeg untuk tidak dibutuhkan
lagi sesudah gereja lokal berkembang
dan sampai pada suatu tahap otonomi
dan kematangan yang memadai yang
didengungkannya 55 tahun silam
kini menjadi kenyataan. Pater Shadeg menjadi misionaris terakhir yang
berkarya di Keuskupan Denpasar.
Kini
Gereja Lokal Keuskupan Denpasar
memang tidak membutuhkan lagi
misionaris yang datang dari ‘negeri
yang jauh’ karena dari Seminari Roh
Kudus Tuka, lahir imam-imam pribumi,
juga dari Gereja di luar Keuskupan
Denpasar senantiasa menyumbang
tenaga imam.
Yang unik dari sejarah lahirnya
Seminari Roh Kudus Tuka adalah para
perintis berdirinya seminari ini. Dalam
catatan sejarah gereja lokal di Nusa
Tenggara (Bali, NTB dan NTT), umumnya
seminari dirintis oleh para misionaris
asal Belanda. Tetapi sejarah Gereja
Lokal Keuskupan Denpasar (Bali & NTB) mencatat, perintis seminari Roh Kudus
Tuka adalah misionaris asal Amerika
Serikat. Dan Pater Norbert Shadeg,SVD,
sang misionaris dari Amerika Serikat
itu telah mewujudkan impiannya,
membangun gereja lokal dengan
pelayan-pelayan pribumi.
Yang Ditabur telah Dituai
Buah Pesemaian dari Seminari Tuka
Sang penabur telah tiada, tetapi
bibit yang ditabur 55 tahun silam buah buahnya
telah dituai.
Pendiri Seminari
Roh Kudus Tuka, Pater Norbert Shadeg,
MA, SVD telah pergi dua tahun silam.
Misionaris lainya asal Amerika Serikat
Pater Flaska SVD pun telah pulang ke
pangkuan Bapa di Surga. Pater L. Marks,
SVD yang memilih menjadi awam, kini entah dimana beliau berada. Satu
catatan berharga dari mereka, Seminari
Roh Kudus Tuka telah menghasilkan
imam, baik praja maupun biarawan.
Berdasarkan data yang bisa direkam
di arsip Seminari Tuka (2008) sampai
dengan tahun 2008 ini Seminari Roh
Kudus Tuka telah menghasilkan 37
imam dan tiga bruder. Sedangkan
frater-frater yang tersebar di berbagai
ordo atau serikat ada 24 orang dan
yang masih menjalani postulat 4 orang.
Ini tentu bukan jumlah yang sedikit
jika dilihat dari aspek jumlah umat
katolik di Keuskupan Denpasar yang merupakan kelompok minoritas.
Dari 37 orang imam alumni Seminari
Roh Kudus Tuka , tercatat ada tujuh
imam yang meninggalkan imamat dan
dua imam meninggal dunia. Mereka
yang bergabung di Serikat sabda Allah
(SVD) 21 orang. Dari jumlah ini, 3 orang
meninggalkan imamat dan satu orang
meninggal dunia yakni Pater Siprianus
I Ketut Natih SVD (angkatan 1955
ditahbiskan 1973). Ada satu alumni
yang bergabung dengan MSF yakni P.
Paulus I Ketut Remudja, MSF (angkatan
1960) yang ditahbiskan imam tahun
1974 (meninggal). Seorang alumni bergabung dengan biara trapis OCSO
yakni P.Thomas I Ketut Switra,OCSO
(angkatan 1975).
Alumni Seminari Roh Kudus yang
ditahbiskan menjadi imam praja
Keuskupan Denpasar sejak tahun 1969
tercatat 14 orang. Dari jumlah ini tiga
orang diantaranya meninggalkan
imamat. Alumni yang masuk bruder
adalah 1 orang bergabung dengan
SVD, 1 orang bergabung dengan FIC
dan satu lagi bergabung dengan SVD.
Frater-frater alumni Seminari Roh
Kudus Tuka yang bergabung dengan
SX 3 orang, SVD 11 orang, dengan MGL 2 orang, O’Carm 1 orang, Yesuit 1
orang, CICM 1 orang dan CMF 1 orang.
Sedangkan yang memilih menjadi
calon imam praja tercatat 6 orang.
Data yang diperoleh dari arsip
Seminari Tuka menunjukkan, angkatan
pertama tahun 1953 menghasilkan
1 imam SVD dan 1 imam praja
keuskupan Denpasar. Angkatan kedua tahun 1954 menghasilkan 1 imam
praja, angkatan ketiga tahun 1955
menghasilkan tiga imam SVD. Data
menunjukkan bahwa angkatan 1956
sampai 1959 tidak ada alumni Seminari
Roh Kudus Tuka yang sampai ke
jenjang iamamat.
Alumni angkatan tahun 1960
menghasilkan 1 orang imam praja, 1 imam MSF dan 1 imam SVD.
Data
menunjukkan bahwa antara angkatan
tahun 1961 sampai 1963 tidak ada
alumni Seminari Tuka yang sampai ke
jenjang imamat. Angkatan tahun 1964
tercatat menghasilkan 1 imam praja.
Selanjutnya angkatan tahun 1965
sampai 1968 tidak ada alumni yang
sampai ke jenjang imamat sedangkan
angkatan tahun 1969 menghasilkan 1
imam SVD.
Angakatan tahun 1970 tidak
ada alumni yang sampai ke jenjang
imamat sedangkan angkatan tahun
1971 menghasilkan 2 imam praja.
Angkatan 1972 menghasilkan 1 imam
SVD, angkatan 1973 menghasilkan
2 imam SVD, dan angkatan 1974
menghasilkan 1 imam SVD. Angkatan
1975 menghasilkan 1 imam OCSO
dan 1 imam SVD, angkatan 1976
menghasilkan 1 imam SVD. Angkatan
tahun 1977 tidak ada yang sampai ke
jenjang imamat.
Angkatan tahun 1978
menghasilkan 1 imam SVD, angkatan tahun 1979 tidak ada alumni yang
sampai ke jenjang imamat, angkatan
1980 menghasilkan 1 imam SVD
sedangkan angkatan tahun 1981
menghasilkan 2 imam SVD dan
angkatan tahun 1982 menghasilan
1 imam SVD. Angkatan 1983
menghasilkan 2 imam praja, angkatan
1983 menghasilkan 1 imam praja,
angkatan 1984 menghasilkan 2
imam praja dan angkatan tahun 1985
menghasilkan 1 imam praja.
Angkatan tahun 1985
menghasilkan 1 imam praja, angkatan
1986 menghasilkan 1 imam SVD,
angkatan 1987 menghasilkan 1 imam
praja, sedangkan angkatan tahun 1988
menghasilkan 1 imam praja. Angkatan
1989 menghasilkan 1 imam SVD dan
angkatan 1990 menghasilkan 1 imam
praja. SW |