buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
Sejarah Seminari Roh Kudus Tuka
Karya Misioner Misionaris Amerika
Dikutip dari majalah Agape edisi April 2008.

Pater Norbert Shadeg, SVD (alm.)

Seminari Roh Kudus Tuka telah berusia 55 tahun. Dengan usia ini berarti lembaga pendidikan dasar para calon imam ini telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Dalam perjalanan itu banyak peristiwa yang terjadi. Bagaimana kecambah ‘lembaga pesemaian’ calon imam ini tumbuh dan berkembang sampai sekarang ini? Dalam tulisan bertajuk ‘Uraian Singkat Mengenai Gereja Katolik di Bali-Lombok dari 1950-1961’ seperti termuat dalam ‘Bali Mission History, from Various Author’ (Compilation: N. Shadeg, SVD & Sekretariat Widya Wahana, Seri I Part II, hal.30) Pater Blanken, SVD menulis:…

’dekat Denpasar desa Tangeb tempat tinggal P.J. Kersten, SVD. pioneer missi Bali/Lombok dipilih untuk menjadi tempat sekolah SMP Katolik yang pertama di Bali dan Lombok. Pada awalnya dijalankan dengan takut apa akan dapat menahan dirinya, berdiri terus, berjalan terus dan untunglah tak lama, nama sekolah itu mulai termasyur juga di antara putera-puteri Bali yang tidak Katolik hingga sekolah itu terjamin…’

Dalam tulisan itu Pater Blanken juga menyebutkan, di samping SMP sebagian dari gedung SMPK Tangeb digunakan sebagai tempat belajar siswa-siswa SMP Seminari Roh Kudus.

Dengan demikian dimulai sebuah tempat pesemaian panggilan imamat dalam sebuah prefektur apostolik yang usianya masih sangat muda yakni baru 20 tahun. Dalam catatan sejarah pendidikan di Bali SMPK Tangeb berdiri pada 1 Agustus 1953. Dibukanya SMP Seminari merupakan langkah berani yang dilakukan oleh Pater Norbert Shadeg, SVD misionaris Serikat Sabda Allah asal Amerika Serikat. Saat itu umur Prefektur Apostolik Denpasar baru 20 tahun dengan jumlah umat 1874 orang dan 116 katekumen. Setelah tiga tahun di Tangeb (kini wilayah Paroki St. Theresia Tangeb), Seminari Roh Kudus pindah ke Tuka tahun 1956 dan tumbuh serta berkembang sampai sekarang ini.

Banyak orang tidak mengerti keberanian Pater Shadeg mendirikan sebuah sekolah seminari dalam Gereja yang masih sangat muda. Tetapi Pater Norbert Shadeg SVD rupanya punya pertimbangan lain. Dalam ‘The Christian Family’ (Bali Mission Series No 9 Denpasar, 1990 halaman 37) Pater Shadeg menulis; ‘…inilah impian misiologis seorang misionaris untuk menjadi tidak dibutuhkan lagi sesudah gereja lokal berkembang dan sampai pada suatu tahap otonomi dan kematangan yang memadai. Tahun 1953 merupakan privilese saya untuk membuka sebuah seminari kecil pertama di pulau ini…’ Impian misiologis misionaris Pater Norbert Shadeg untuk tidak dibutuhkan lagi sesudah gereja lokal berkembang dan sampai pada suatu tahap otonomi dan kematangan yang memadai yang didengungkannya 55 tahun silam kini menjadi kenyataan. Pater Shadeg menjadi misionaris terakhir yang berkarya di Keuskupan Denpasar.

Kini Gereja Lokal Keuskupan Denpasar memang tidak membutuhkan lagi misionaris yang datang dari ‘negeri yang jauh’ karena dari Seminari Roh Kudus Tuka, lahir imam-imam pribumi, juga dari Gereja di luar Keuskupan Denpasar senantiasa menyumbang tenaga imam. Yang unik dari sejarah lahirnya Seminari Roh Kudus Tuka adalah para perintis berdirinya seminari ini. Dalam catatan sejarah gereja lokal di Nusa Tenggara (Bali, NTB dan NTT), umumnya seminari dirintis oleh para misionaris asal Belanda. Tetapi sejarah Gereja Lokal Keuskupan Denpasar (Bali & NTB) mencatat, perintis seminari Roh Kudus Tuka adalah misionaris asal Amerika Serikat. Dan Pater Norbert Shadeg,SVD, sang misionaris dari Amerika Serikat itu telah mewujudkan impiannya, membangun gereja lokal dengan pelayan-pelayan pribumi. Yang Ditabur telah Dituai Buah Pesemaian dari Seminari Tuka Sang penabur telah tiada, tetapi bibit yang ditabur 55 tahun silam buah buahnya telah dituai.

Pendiri Seminari Roh Kudus Tuka, Pater Norbert Shadeg, MA, SVD telah pergi dua tahun silam. Misionaris lainya asal Amerika Serikat Pater Flaska SVD pun telah pulang ke pangkuan Bapa di Surga. Pater L. Marks, SVD yang memilih menjadi awam, kini entah dimana beliau berada. Satu catatan berharga dari mereka, Seminari Roh Kudus Tuka telah menghasilkan imam, baik praja maupun biarawan.

Berdasarkan data yang bisa direkam di arsip Seminari Tuka (2008) sampai dengan tahun 2008 ini Seminari Roh Kudus Tuka telah menghasilkan 37 imam dan tiga bruder. Sedangkan frater-frater yang tersebar di berbagai ordo atau serikat ada 24 orang dan yang masih menjalani postulat 4 orang. Ini tentu bukan jumlah yang sedikit jika dilihat dari aspek jumlah umat katolik di Keuskupan Denpasar yang merupakan kelompok minoritas. Dari 37 orang imam alumni Seminari Roh Kudus Tuka , tercatat ada tujuh imam yang meninggalkan imamat dan dua imam meninggal dunia. Mereka yang bergabung di Serikat sabda Allah (SVD) 21 orang. Dari jumlah ini, 3 orang meninggalkan imamat dan satu orang meninggal dunia yakni Pater Siprianus I Ketut Natih SVD (angkatan 1955 ditahbiskan 1973). Ada satu alumni yang bergabung dengan MSF yakni P. Paulus I Ketut Remudja, MSF (angkatan 1960) yang ditahbiskan imam tahun 1974 (meninggal). Seorang alumni bergabung dengan biara trapis OCSO yakni P.Thomas I Ketut Switra,OCSO (angkatan 1975). Alumni Seminari Roh Kudus yang ditahbiskan menjadi imam praja Keuskupan Denpasar sejak tahun 1969 tercatat 14 orang. Dari jumlah ini tiga orang diantaranya meninggalkan imamat. Alumni yang masuk bruder adalah 1 orang bergabung dengan SVD, 1 orang bergabung dengan FIC dan satu lagi bergabung dengan SVD. Frater-frater alumni Seminari Roh Kudus Tuka yang bergabung dengan SX 3 orang, SVD 11 orang, dengan MGL 2 orang, O’Carm 1 orang, Yesuit 1 orang, CICM 1 orang dan CMF 1 orang. Sedangkan yang memilih menjadi calon imam praja tercatat 6 orang.

Data yang diperoleh dari arsip Seminari Tuka menunjukkan, angkatan pertama tahun 1953 menghasilkan 1 imam SVD dan 1 imam praja keuskupan Denpasar. Angkatan kedua tahun 1954 menghasilkan 1 imam praja, angkatan ketiga tahun 1955 menghasilkan tiga imam SVD. Data menunjukkan bahwa angkatan 1956 sampai 1959 tidak ada alumni Seminari Roh Kudus Tuka yang sampai ke jenjang iamamat. Alumni angkatan tahun 1960 menghasilkan 1 orang imam praja, 1 imam MSF dan 1 imam SVD.

Data menunjukkan bahwa antara angkatan tahun 1961 sampai 1963 tidak ada alumni Seminari Tuka yang sampai ke jenjang imamat. Angkatan tahun 1964 tercatat menghasilkan 1 imam praja. Selanjutnya angkatan tahun 1965 sampai 1968 tidak ada alumni yang sampai ke jenjang imamat sedangkan angkatan tahun 1969 menghasilkan 1 imam SVD. Angakatan tahun 1970 tidak ada alumni yang sampai ke jenjang imamat sedangkan angkatan tahun 1971 menghasilkan 2 imam praja. Angkatan 1972 menghasilkan 1 imam SVD, angkatan 1973 menghasilkan 2 imam SVD, dan angkatan 1974 menghasilkan 1 imam SVD. Angkatan 1975 menghasilkan 1 imam OCSO dan 1 imam SVD, angkatan 1976 menghasilkan 1 imam SVD. Angkatan tahun 1977 tidak ada yang sampai ke jenjang imamat. Angkatan tahun 1978 menghasilkan 1 imam SVD, angkatan tahun 1979 tidak ada alumni yang sampai ke jenjang imamat, angkatan 1980 menghasilkan 1 imam SVD sedangkan angkatan tahun 1981 menghasilkan 2 imam SVD dan angkatan tahun 1982 menghasilan 1 imam SVD. Angkatan 1983 menghasilkan 2 imam praja, angkatan 1983 menghasilkan 1 imam praja, angkatan 1984 menghasilkan 2 imam praja dan angkatan tahun 1985 menghasilkan 1 imam praja. Angkatan tahun 1985 menghasilkan 1 imam praja, angkatan 1986 menghasilkan 1 imam SVD, angkatan 1987 menghasilkan 1 imam praja, sedangkan angkatan tahun 1988 menghasilkan 1 imam praja. Angkatan 1989 menghasilkan 1 imam SVD dan angkatan 1990 menghasilkan 1 imam praja. SW

Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia
  Jumlah Pengunjung: