buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
SEJARAH TUKA
Betlehemnya Pulau Bali (Disanalah Seminari Tuka Berdiri)
Oleh: RD. Gusti Bagus Kusumawanta
Dikutip dari majalah Agape edisi April 2008

Misa merayakan pesta pelindung Paroki Tuka Tritunggal Maha Kudus Misa merayakan pesta pelindung Paroki Tuka Tritunggal Maha Kudus

Awal Kisah Karya Misi

Awal Kisah Karya Misi Tuka adalah sebuah dusun kecil yang tidak begitu terkenal di pulau Dewata Bali. Tuka berada di sebelah selatan Pulau Bali, masuk dalam wilayah kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, kurang lebih 7 km dari kota Denpasar. Berkat karya Misi Gereja yang berawal tahun 1935 dan dengan diangkatnya oleh Vatikan Mgr. Hubertus Hermens, SVD sebagai seorang Prefektur Apostolik, untuk wilayah Bali Lombok, beliau sangat giat memajukan Gereja lokal dengan karya pendidikan dan kesehatan serta sosial. Pulau Bali resmi menjadi wilayah Karya Misi Gereja Universal. Misi Gereja saat itu berkembang pesat, dengan kehadiran Misionaris SVD, seperti P. Simon Buis, SVD, P. J. Kersten, SVD, P de Boer, SVD, dan P. Heyne, SVD.

Maka tak pelak lagi terang bersinar di wilayah Bali yang dimulai dari desa Tuka. Sebuah dusun kecil yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, oleh karena itulah P. V. Ierssel, SVD pernah mengatakan bahwa dusun Tuka Betlehemnya Pulau Bali. Umat Katolik dan kebudayaan Bali Di dusun Tuka inilah iman umat Katolik bertumbuh dan berkembang. Karya Misi Gereja yang dimulai sejak 1935 telah tertanam kuat dan berakar dalam budaya setempat. Umat Katolik Tuka dengan kekhasannya tidak hanya hidup dalam kultur Bali tetapi juga dalam merayakan imannya, Gereja hidup berakar pada kebudayaan Bali.

Karya Misi sebagai dialog antar budaya itulah yang sedang berkembang di Tuka. Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaan (rwa bhineda), yang sering ditentukan oleh faktor ruang (desa), waktu (kala) dan kondisi riil di lapangan (patra). Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa komunikasi dan interaksi antara kebudayaan Bali dan budaya luar seperti India (Hindu), Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan kreativitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukan. Tema-tema dalam seni lukis, seni rupa dan seni pertunjukan banyak dipengaruhi oleh budaya India. Demikian pula budaya Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa baru pada produk seni di Bali. Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif khususnya dalam kesenian sehingga tetap mampu bertahan dan tidak kehilangan jati diri.

Kebudayaan Bali menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan (prahyangan), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud. Selain nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi, dalam kebudayaan Bali juga dikenal adanya konsep tri semaya yakni persepsi orang Bali terhadap waktu. Menurut orang Bali masa lalu (athita), masa kini (anaghata) dan masa yang akan datang (warthamana) merupakan suatu rangkaian waktu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kehidupan manusia pada saat ini ditentukan oleh hasil perbuatan di masa lalu, dan perbuatan saat ini juga menentukan kehidupan di masa yang akan datang.

Dalam ajaran hukum karma phala disebutkan tentang sebab-akibat dari suatu perbuatan, perbuatan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik. Demikian pula sebaliknya, perbuatan yang buruk hasilnya juga buruk atau tidak baik bagi yang bersangkutan. Kebudayaan Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang mencakup nilai nilai dasar yang dominan sepert: nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni, dan nilai keseimbangan. Kelima nilai dasar tersebut ditengarai mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan. Ketahanan budaya Bali juga ditentukan oleh sistem sosial yang terwujud dalam berbagai bentuk lembaga tradisional seperti banjar, desa adat, subak (organisasi pengairan), sekaa (perkumpulan), dan dadia (klen).

Keterikatan orang Bali terhadap lembaga-lembaga tradisional tersebut baik secara sukarela maupun wajib, telah mampu berfungsi secara struktural bagi ketahanan budaya Bali. Orang Bali sangat terikat oleh beberapa lembaga sosial seperti tersebut di atas. Lembaga tradisional seperti desa adat dianggap benteng terakhir dari kebertahanan budaya Bali. Bagi umat beriman Katolik budaya Bali merupakan bagian dari hidup beriman maka umat Katolik juga ikut memelihara kebudayaan tersebut. Contoh konkrit Paroki Tri Tunggal Maha Kudus Tuka, yang sangat memperhatikan budaya Bali.

Paroki Tuka Bethlehem dari Bali

Menurut catatan sejarah perkembangan Gereja Paroki Tri Tunggal Maha Kudus Tuka dibangun dengan diawali peletakan batu pertama oleh P Y Kersten, SVD pada tahun 1936 kemudian diresmikan oleh P. Simon Buis pada tanggal 14 Pebruari 1937 menjadi cikal bakal berdirinya gereja-gereja di daerah Bali.

Gereja ini menjadi yang pertama dan tertua di Bali, yang menginspirasi berkembangnya gereja-gereja lain di Bali. Gereja mengalami banyak perubahan dari sejak didirikan dan sempat dibakar pada saat perang dunia II sekitar tahun 1945, memiliki karakter arsitektur Bali. Banyak unsur budaya Bali diadopsi, seperti penggunaan gerbang angkul-angkul serta bentuk gereja menyerupai wantilan, yaitu ruang terbuka dengan atap dan tiang-tiang, tanpa dinding, yang biasa dipakai masyarakat Bali untuk pelaksanaan suatu acara.

Dari Tuka, ajaran Katolik berkembang ke Dalung, Padang Tawang, Babakan, Tibubeneng, Kulibul, Buduk, dan Tangeb, Abianbase, Cemagi, Sading. Salah satu kekhasan dan corak khas Gereja Tuka adalah umat tetap memegang teguh budaya setempat.


Gamelan Bali mengiringi koor Paroki Tuka Gamelan Bali mengiringi koor Paroki Tuka

Menjadi orang Katolik bukan berarti meninggalkan kebaliannya, kebudayaannya sebagai orang Bali asli. Maka Gereja Tuka memiliki seperangkat gamelan dan penabuh yang tergabung dalam Sekaa Gong Bakti Budaya dibawah pimpinan Bapak Alex Nyoman Gunarsa. Sekaa Gong ini telah banyak kali melayani para tamu dari Pusat Gereja Katolik Roma maupun para Uskup, Romo dan umat beriman dari manca negara. Kini umat berkembang dan mereka tetap memegang teguh budaya Bali agar tetap terpelihara keajegan Bali.

Sejak diresmikan hingga kini, karya pelayanan pun berkembang. Sekolah, klinik dan Panti Asuhan didirikan untuk melayani masyarakat tanpa melihat latar belakang agama dan budaya. Seminari pun didirikan di desa ini (lihat sejarah berdirinya Seminari Tuka). Dari daerah ini pula muncul biarawati pertama di Bali, Ni Wayan Rika, pada tahun 1958 masuk tarekat religius OSF menjadi Suster Maria Hubertine OSF.

Tahun 1969, bertempat di Paroki Roh Kudus Babakan, P. Servatius Subhaga SVD, putra Tuka, ditahbiskan menjadi imam pertama asli Bali.

Berdirinya Seminari Tuka Pada tgl 9 Juli 1949, Misionaris P.N. Shadeg, SVD bersama rekannya P. Joseph Flaska, SVD diutus menjadi misionaris di pulau Bali. Pada tgl 9 Juli 1953, P. N. Shadeg, SVD mendirikan sebuah lembaga Seminari Kecil (tingkat SLTP) di dusun Tangeb, 15 km dari Denpasar. P. N. Shadeg, SVD dengan susah payah melalui perjuangan melawan tantangan dari pemuda rakyat yang berhaluan komunis dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usaha Misi Gereja membangun Seminari kecil di Tangeb.

Meski demikian P. N. Shadeg tetap gigih berjuang membangun Seminari kecil di Pulau Bali ini. Oleh karena itu, selama 3 tahun berusaha akhirnya muncul gagasan baru dari Mgr. Hermens dan P. N.Shadeg, SVD untuk memindahkan Seminari kecil dari Tangeb ke Tuka.

Tepat pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam, tgl 28 Oktober 1956, Seminari itu beridiri di daerah dusun Tuka. Tujuan awal dari para misionaris mendirikan Seminari Kecil di P. Bali ini adalah agar lahirlah imam-imam pribumi dari pulau dewata Bali. Hal itu ditegaskan oleh P. Simon Buis, SVD, Di Seminari inilah putera putera Bali disemaikan agar memiliki semangat hidup demi Kerajaan Allah.

Demikianlah para misionaris telah mengawali karya Allah di kebun anggurNya, kini sudah sekitar seribuan anak seminari yang menjadi alumni dari Seminari Menengah Roh Kudus Tuka. Waktu berjalan dengan pesat hingga tahun 1969 telah lahir imam pribumi P. S. Subhaga, SVD imam pribumi pertama yang ditahbiskan di Paroki Babakan. Jelas ini merupakan suatu bukti bahwa Gereja akan berakar dalam budaya setempat jika lahir imam imam pribumi.

Where a native clergy exists, there the church is founded, demikian kata Paus Benediktus XV.

Pada tahun 1981-1982 Seminari Menengah Roh Kudus Tuka membuka tingkat SMU. Kegiatan proses belajar mengajar bergabung dengan SMU Thomas Aquino Tangeb.

Demikian waktu bergulir pada tahun 2003 dibukalah Kelas Persiapan Atas (KPA) menerima siswa SMU Negeri/Swasta non seminari. Sejarah Seminari kini memasuki usianya ke 55 di tahun 2008, saat yang tepat untuk merefleksi diri, menata diri dan mengubah diri untuk menatap masa depan. Setelah putra pertama asli Bali P. Servatius Subhaga, SVD menjadi imam berikutnya menyusul putra putra Bali lainnya yang hingga kini berjumlah 29 imam dan 12 calon imam untuk keuskupan Denpasar (asal Bali 4 orang). Banyak hal harus dikerjakan agar seminari Tuka tetap eksis menghasilkan imam-imam pribumi, meski tantangan semakin berat di mana minat anak untuk masuk seminari cenderung menurun kita harus optimis berkat dukungan semua pihak terutama dari para Imam, biarawan-wati dan awam.

Semoga karya misi Gereja Katolik di Bali tetap berakar pada budaya setempat agar lahirlah imam-imam pribumi yang menyebar ke seluruh jagat.

Catatan: RD. Gusti Bagus Kusumawanta kelahiran Singaraja Bali, tahbisan imam tahun 1990 di Singaraja (mantan Rektor Seminari Tuka, 2001-2006). Kini bekerja sebagai Sekretaris Komisi Seminari KWI, pengurus BKBLII, GOTAUS, Unio Indonesia. Dari imam pertama itulah kemudian lahir imam kedua asal Singaraja, RD. Benediktus Deni Mary, kini Rektor Seminari Tuka, 2007-2012 (alumni seminari Tuka).

 


Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia

  Jumlah Pengunjung: