Misa merayakan pesta pelindung Paroki Tuka Tritunggal Maha Kudus
|
Awal Kisah Karya Misi
Awal Kisah Karya Misi Tuka adalah sebuah dusun kecil
yang tidak begitu terkenal di pulau Dewata Bali. Tuka
berada di sebelah selatan Pulau Bali, masuk dalam wilayah
kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, kurang lebih 7
km dari kota Denpasar. Berkat karya Misi Gereja yang berawal
tahun 1935 dan dengan diangkatnya oleh Vatikan Mgr. Hubertus
Hermens, SVD sebagai seorang Prefektur Apostolik, untuk
wilayah Bali Lombok, beliau sangat giat memajukan Gereja
lokal dengan karya pendidikan dan kesehatan serta sosial.
Pulau Bali resmi menjadi wilayah Karya Misi Gereja Universal.
Misi Gereja saat itu berkembang pesat, dengan kehadiran
Misionaris SVD, seperti P. Simon Buis, SVD, P. J. Kersten,
SVD, P de Boer, SVD, dan P. Heyne, SVD.
Maka tak pelak lagi terang bersinar di wilayah Bali yang
dimulai dari desa Tuka. Sebuah dusun kecil yang mayoritas
penduduknya beragama Katolik, oleh karena itulah P. V.
Ierssel, SVD pernah mengatakan bahwa dusun Tuka Betlehemnya
Pulau Bali. Umat Katolik dan kebudayaan Bali Di dusun
Tuka inilah iman umat Katolik bertumbuh dan berkembang.
Karya Misi Gereja yang dimulai sejak 1935 telah tertanam
kuat dan berakar dalam budaya setempat. Umat Katolik Tuka
dengan kekhasannya tidak hanya hidup dalam kultur Bali
tetapi juga dalam merayakan imannya, Gereja hidup berakar
pada kebudayaan Bali.
Karya Misi sebagai dialog antar budaya itulah yang sedang
berkembang di Tuka. Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi
oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu.
Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaan (rwa bhineda),
yang sering ditentukan oleh faktor ruang (desa), waktu
(kala) dan kondisi riil di lapangan (patra). Konsep desa,
kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel
dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan
luar.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa komunikasi dan interaksi
antara kebudayaan Bali dan budaya luar seperti India (Hindu),
Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan
kreativitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukan.
Tema-tema dalam seni lukis, seni rupa dan seni pertunjukan
banyak dipengaruhi oleh budaya India. Demikian pula budaya
Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa baru pada produk seni
di Bali. Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa
kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif khususnya
dalam kesenian sehingga tetap mampu bertahan dan tidak
kehilangan jati diri.
Kebudayaan Bali menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan
dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan
(prahyangan), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan
hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan), yang tercermin
dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan).
Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan
harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan
akan terwujud. Selain nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi,
dalam kebudayaan Bali juga dikenal adanya konsep tri semaya
yakni persepsi orang Bali terhadap waktu. Menurut orang
Bali masa lalu (athita), masa kini (anaghata) dan masa
yang akan datang (warthamana) merupakan suatu rangkaian
waktu yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Kehidupan manusia pada saat ini ditentukan oleh hasil
perbuatan di masa lalu, dan perbuatan saat ini juga menentukan
kehidupan di masa yang akan datang.
Dalam ajaran hukum karma phala disebutkan tentang sebab-akibat
dari suatu perbuatan, perbuatan yang baik akan mendapatkan
hasil yang baik. Demikian pula sebaliknya, perbuatan yang
buruk hasilnya juga buruk atau tidak baik bagi yang bersangkutan.
Kebudayaan Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu
budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif
yang mencakup nilai nilai dasar yang dominan sepert: nilai
religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni,
dan nilai keseimbangan. Kelima nilai dasar tersebut ditengarai
mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan.
Ketahanan budaya Bali juga ditentukan oleh sistem sosial
yang terwujud dalam berbagai bentuk lembaga tradisional
seperti banjar, desa adat, subak (organisasi pengairan),
sekaa (perkumpulan), dan dadia (klen).
Keterikatan orang Bali terhadap lembaga-lembaga tradisional
tersebut baik secara sukarela maupun wajib, telah mampu
berfungsi secara struktural bagi ketahanan budaya Bali.
Orang Bali sangat terikat oleh beberapa lembaga sosial
seperti tersebut di atas. Lembaga tradisional seperti
desa adat dianggap benteng terakhir dari kebertahanan
budaya Bali. Bagi umat beriman Katolik budaya Bali merupakan
bagian dari hidup beriman maka umat Katolik juga ikut
memelihara kebudayaan tersebut. Contoh konkrit Paroki
Tri Tunggal Maha Kudus Tuka, yang sangat memperhatikan
budaya Bali.
Paroki Tuka Bethlehem dari Bali
Menurut catatan sejarah perkembangan Gereja Paroki Tri
Tunggal Maha Kudus Tuka dibangun dengan diawali peletakan
batu pertama oleh P Y Kersten, SVD pada tahun 1936 kemudian
diresmikan oleh P. Simon Buis pada tanggal 14 Pebruari
1937 menjadi cikal bakal berdirinya gereja-gereja di daerah
Bali.
Gereja ini menjadi yang pertama dan tertua di Bali, yang
menginspirasi berkembangnya gereja-gereja lain di Bali.
Gereja mengalami banyak perubahan dari sejak didirikan
dan sempat dibakar pada saat perang dunia II sekitar tahun
1945, memiliki karakter arsitektur Bali. Banyak unsur
budaya Bali diadopsi, seperti penggunaan gerbang angkul-angkul
serta bentuk gereja menyerupai wantilan, yaitu ruang terbuka
dengan atap dan tiang-tiang, tanpa dinding, yang biasa
dipakai masyarakat Bali untuk pelaksanaan suatu acara.
Dari Tuka, ajaran Katolik berkembang ke Dalung, Padang
Tawang, Babakan, Tibubeneng, Kulibul, Buduk, dan Tangeb,
Abianbase, Cemagi, Sading. Salah satu kekhasan dan corak
khas Gereja Tuka adalah umat tetap memegang teguh budaya
setempat.
Gamelan Bali mengiringi koor Paroki Tuka
|
Menjadi orang Katolik bukan berarti meninggalkan kebaliannya,
kebudayaannya sebagai orang Bali asli. Maka Gereja Tuka
memiliki seperangkat gamelan dan penabuh yang tergabung
dalam Sekaa Gong Bakti Budaya
dibawah pimpinan Bapak Alex Nyoman Gunarsa. Sekaa Gong
ini telah banyak kali melayani para tamu dari Pusat Gereja
Katolik Roma maupun para Uskup, Romo dan umat beriman
dari manca negara. Kini umat berkembang dan mereka tetap
memegang teguh budaya Bali agar tetap terpelihara keajegan
Bali.
Sejak diresmikan hingga kini, karya pelayanan pun berkembang.
Sekolah, klinik dan Panti Asuhan didirikan untuk melayani
masyarakat tanpa melihat latar belakang agama dan budaya.
Seminari pun didirikan di desa ini (lihat sejarah berdirinya
Seminari Tuka). Dari daerah ini pula muncul biarawati
pertama di Bali, Ni Wayan Rika, pada tahun 1958 masuk
tarekat religius OSF menjadi Suster Maria Hubertine OSF.
Tahun 1969, bertempat di Paroki Roh Kudus Babakan, P.
Servatius Subhaga SVD, putra Tuka, ditahbiskan menjadi
imam pertama asli Bali.
Berdirinya Seminari Tuka Pada tgl 9 Juli 1949, Misionaris
P.N. Shadeg, SVD bersama rekannya P. Joseph Flaska, SVD
diutus menjadi misionaris di pulau Bali. Pada tgl 9 Juli
1953, P. N. Shadeg, SVD mendirikan sebuah lembaga Seminari
Kecil (tingkat SLTP) di dusun Tangeb, 15 km dari Denpasar.
P. N. Shadeg, SVD dengan susah payah melalui perjuangan
melawan tantangan dari pemuda rakyat yang berhaluan komunis
dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap usaha Misi
Gereja membangun Seminari kecil di Tangeb.
Meski demikian P. N. Shadeg tetap gigih berjuang membangun
Seminari kecil di Pulau Bali ini. Oleh karena itu, selama
3 tahun berusaha akhirnya muncul gagasan baru dari Mgr.
Hermens dan P. N.Shadeg, SVD untuk memindahkan Seminari
kecil dari Tangeb ke Tuka.
Tepat pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam, tgl 28
Oktober 1956, Seminari itu beridiri di daerah dusun Tuka.
Tujuan awal dari para misionaris mendirikan Seminari Kecil
di P. Bali ini adalah agar lahirlah imam-imam pribumi
dari pulau dewata Bali. Hal itu ditegaskan oleh P. Simon
Buis, SVD, Di Seminari inilah putera putera Bali disemaikan
agar memiliki semangat hidup demi Kerajaan Allah.
Demikianlah para misionaris telah mengawali karya Allah
di kebun anggurNya, kini sudah sekitar seribuan anak seminari
yang menjadi alumni dari Seminari Menengah Roh Kudus Tuka.
Waktu berjalan dengan pesat hingga tahun 1969 telah lahir
imam pribumi P. S. Subhaga, SVD imam pribumi pertama yang
ditahbiskan di Paroki Babakan. Jelas ini merupakan suatu
bukti bahwa Gereja akan berakar dalam budaya setempat
jika lahir imam imam pribumi.
Where a native clergy exists, there
the church is founded, demikian kata Paus Benediktus XV.
Pada tahun 1981-1982 Seminari Menengah Roh Kudus Tuka
membuka tingkat SMU. Kegiatan proses belajar mengajar
bergabung dengan SMU Thomas Aquino Tangeb.
Demikian waktu bergulir pada tahun 2003 dibukalah Kelas
Persiapan Atas (KPA) menerima siswa SMU Negeri/Swasta
non seminari. Sejarah Seminari kini memasuki usianya ke
55 di tahun 2008, saat yang tepat untuk merefleksi diri,
menata diri dan mengubah diri untuk menatap masa depan.
Setelah putra pertama asli Bali P. Servatius Subhaga,
SVD menjadi imam berikutnya menyusul putra putra Bali
lainnya yang hingga kini berjumlah 29 imam dan 12 calon
imam untuk keuskupan Denpasar (asal Bali 4 orang). Banyak
hal harus dikerjakan agar seminari Tuka tetap eksis menghasilkan
imam-imam pribumi, meski tantangan semakin berat di mana
minat anak untuk masuk seminari cenderung menurun kita
harus optimis berkat dukungan semua pihak terutama dari
para Imam, biarawan-wati dan awam.
Semoga karya misi Gereja Katolik di Bali tetap berakar
pada budaya setempat agar lahirlah imam-imam pribumi yang
menyebar ke seluruh jagat.
Catatan: RD. Gusti Bagus Kusumawanta
kelahiran Singaraja Bali, tahbisan imam tahun 1990 di
Singaraja (mantan Rektor Seminari Tuka, 2001-2006). Kini
bekerja sebagai Sekretaris Komisi Seminari KWI, pengurus
BKBLII, GOTAUS, Unio Indonesia.
Dari imam pertama itulah kemudian lahir imam kedua asal
Singaraja, RD. Benediktus Deni Mary, kini Rektor Seminari
Tuka, 2007-2012 (alumni seminari Tuka).
|