buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.
Saksi:
Seminariku, Seminarimu,
SEMINARI KITA..

Pater Norbert Shadeg, SVD (alm.)
Saya dibina di Seminari Roh Kudus Tuka dari tahun 1983 - 1986, bersama 20 teman sewaktu kelas I, dan sampai tamat kelas III tinggal 17 orang. Jadi sudah 22 tahun lalu, tentu ada banyak perubahan yang telah terjadi: Pembina, seminaris dan lingkungan seminari. Adakah yang tetap ada di seminari kita ini sampai saat ini? Bagi saya jelas ada : Ingin memberikan yang terbaik untuk Gereja masa depan! Seminari kita selalu ingin mempersiapkan "SDM" yang baik dan bertanggung jawab untuk Gereja. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang yang masuk seminari menjadi imam. Mereka yang tidak jadi imam pun turut ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya dengan cara mereka masing-masing. Hal ini harus kita sadari betul.!

Seminariku 22 Tahun Silam

Waktu itu rektor seminari Rm. Marcel Gede Myarsa Pr, prefect SMP Br Markus Rodjasuka SVD, dan praefect SMA Fr. Hubert Hady (sekarang Rm Hubert Hady Pr). Kami punya cukup waktu untuk opera (kerja, pagi sebelum makan dan sore). Bagi saya ini penting! Kerja melatih saya untuk "mencipta." Semua bentuk kerja, nyangkul, gosok wc, bersihkan septitank, cuci dan setrika sangat indah. Ada pendidikan nilai tanggungjawab terhadap diri sendiri dan komunitas ditanamkan dengan serius. Ya..pada waktu itu praefect cukup keras (sedikit main tempeleng), saya melihat hal itu sebagai "yang dibutuhkan!" Jika tidak, mungkin kami tidak bisa kerja apa-apa, mungkin juga tidak ada rasa tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri juga pada komunitas. Disiplin kerja juga mempengaruhi disiplin belajar. Ratarata jam-jam efektif untuk belajar digunakan sebaik mungkin. Tentu peran praefect (Pembina) menurut saya cukup signifikan. Namanya usia remaja, kecenderungan ribut, ganggu teman, berkelahi selalu ada. Untuk mengatasi kecenderungan ini dibutuhkan Pembina yang "SETIA" hadir menemani. Saya menyadari tugas pembina tidaklah mudah, karena kerap pembina juga masih bergulat dengan persoalan persoalan dirinya sendiri. Tanpa komitmen dan kesetiaan tingkat tinggi, pembina di seminari tidak akan produktif, malah sebaliknya menjadi mandul, kering dan membosankan. Pada waktu itu nilai akademik kami baik, bahkan di atas rata-rata.

Ada beberapa teman kelas pada waktu itu dinyatakan tidak naik kelas, dan ia keluar meneruskan di luar, wow..malah rangking 1. Soal makanan sangatlah biasa dan sederhana. Yang luar biasa adalah semangat dan mental seminaris pada waktu itu. Saya melihat dalam keadaan makanan yang kurang enak (keras, itu-itu saja, sepanjang hari krupuk dll) teman-teman makan saja tanpa banyak mengeluh. Saya kira "tanpa banyak mengeluh" point penting dalam proses pendidikan apapun dan di mana pun. Perihal fasilitas, khususnya air wow.sangatlah minim pada waktu itu. Seminggu kami kerap beberapa kali harus mandi ke sungai. Indahnya, ya kami senang-senang saja. Malah saya ada kesempatan pulang ke rumah ha..ha, kebetulan rumah dekat seminari sana.. Walaupun demikian, semua jadwal berjalan on time. Sekalipun mandi ke sungai, acara berikutnya jalan terus tidak boleh terlambat ! Bagi yang terlambat pasti ditunggu praefect dengan ganjaran tersendiri, maksud saya hukuman yang cukup mendidik: gembalakan kambing setiap tidur siang, bersihkan sarang laba-laba di kelas atau gosok wc sampai kinclong ..

Seminariku: Harapan ke Depan

"Ite et docete omnes gentes" (pergi dan ajarlah semua bangsa.). Itulah kalimat yang kerap diulang-ulang Rm. Shadeg bila mengajar Sejarah Gereja. Pengajaran tetap sama, yang berbeda tentu situasi, system, pengajar dan yang diajar. Saya kira inilah tantangan seminari kita ke depan: menjawabi kebutuhan Gereja sesuai dengan jamannya, wow.keren kan? Fakta bahwa siswa seminaris jumlahnya menurun, saya kira sangat masuk akal. Bagaimana tidak menurun, wong dulu tahun 80-an satu keluarga masih punya anak 4-5, sekarang paling banter 2, bahkan tidak jarang hanya satu, itupun adopsi. Bisa dibayangkan.! Saya kira ke depan kita tidak perlu ngoyo-ngoyo seminari siswanya banyak, secukupnya saja atau mungkin sedikit tapi memang dibina dengan maksimal. Maksimal tentunya dapat diterjemahkan macam macam. Bagi saya: ditanamkan semangat kerja, bermental tidak gampang mengeluh, dan tentu punya kemampuan berpikir, berelasi dan berkreasi yang memadai! Tidak jarang faktor dana menjadi hal yang pelik dan serius, memang ya!

Selama ini di Keuskupan Denpasar ada kolekte untuk seminari, kalau tidak salah tiap minggu ke 5, yang sampai sekarang saya belum pernah lihat laporannya dari Keuskupan, apa kolekte dari paroki-paroki itu sampai apa tidak? Proyek sepanjang masa adalah: tenaga pembina di seminari. Selama ini saya bersyukur ada teman-teman Imam yang telah mau bertugas di Seminari, teruskan! Mungkin perlu dipikirkan ke depan untuk mempersiapkan atau mengkader para Pembina, khususnya dengan studi lanjut ilmu-ilmu sosial seperti psikologi, managemen, arsitektur, dan hukum misalnya. Selama ini kita/keuskupan hanya kirim imam untuk studi lanjut hanya kalau ada beasiswa, itupun hanya teologi. Teologi amat penting! Teologi akan lebih efektif bila dipadukan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Lha, kalau tidak ada beasiswa berarti tidak akan ada imam yang studi lanjut. Apakah seluruh umat keuskupan Denpasar tidak ada yang mampu untuk menyumbang studi imam-imam mereka? Atau hanya ada umat yang mau dan mampu nyumbang pembangunan gedung gereja? Inilah tantangan dan tugas berat Pembina seminari ke depan, tugas berat keuskupan kita! (Rm. Y.B. Komang Suryana, Pr)

 

Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia
  Jumlah Pengunjung: