Saya dibina di Seminari Roh
Kudus Tuka dari tahun 1983
- 1986, bersama 20 teman
sewaktu kelas I, dan sampai tamat
kelas III tinggal 17 orang. Jadi
sudah 22 tahun lalu, tentu ada
banyak perubahan yang telah
terjadi: Pembina, seminaris dan
lingkungan seminari. Adakah yang
tetap ada di seminari kita ini sampai
saat ini? Bagi saya jelas ada : Ingin
memberikan yang terbaik untuk
Gereja masa depan! Seminari kita
selalu ingin mempersiapkan "SDM"
yang baik dan bertanggung jawab
untuk Gereja. Fakta menunjukkan
bahwa tidak semua orang yang
masuk seminari menjadi imam.
Mereka yang tidak jadi imam pun
turut ambil bagian dalam karya
penyelamatan-Nya dengan cara
mereka masing-masing. Hal ini
harus kita sadari betul.!
Seminariku 22 Tahun Silam
Waktu itu rektor seminari Rm. Marcel Gede Myarsa Pr,
prefect SMP Br Markus Rodjasuka SVD, dan praefect SMA Fr.
Hubert Hady (sekarang Rm Hubert Hady Pr). Kami punya cukup
waktu untuk opera (kerja, pagi sebelum makan dan sore). Bagi
saya ini penting! Kerja melatih saya untuk "mencipta." Semua
bentuk kerja, nyangkul, gosok wc, bersihkan septitank, cuci
dan setrika sangat indah. Ada pendidikan nilai tanggungjawab
terhadap diri sendiri dan komunitas ditanamkan dengan
serius. Ya..pada waktu itu praefect cukup keras (sedikit main
tempeleng), saya melihat hal itu sebagai "yang dibutuhkan!"
Jika tidak, mungkin kami tidak bisa kerja apa-apa, mungkin
juga tidak ada rasa tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri
juga pada komunitas.
Disiplin kerja juga mempengaruhi disiplin belajar. Ratarata
jam-jam efektif untuk belajar digunakan sebaik mungkin.
Tentu peran praefect (Pembina) menurut saya cukup signifikan. Namanya usia remaja,
kecenderungan ribut, ganggu
teman, berkelahi selalu ada. Untuk
mengatasi kecenderungan ini
dibutuhkan Pembina yang "SETIA"
hadir menemani. Saya menyadari
tugas pembina tidaklah mudah,
karena kerap pembina juga masih
bergulat dengan persoalan persoalan
dirinya sendiri. Tanpa
komitmen dan kesetiaan tingkat
tinggi, pembina di seminari tidak
akan produktif, malah sebaliknya
menjadi mandul, kering dan
membosankan.
Pada waktu itu nilai akademik
kami baik, bahkan di atas rata-rata.
Ada beberapa teman kelas pada
waktu itu dinyatakan tidak naik
kelas, dan ia keluar meneruskan di
luar, wow..malah rangking 1.
Soal makanan sangatlah biasa
dan sederhana. Yang luar biasa
adalah semangat dan mental
seminaris pada waktu itu. Saya
melihat dalam keadaan makanan yang kurang enak (keras,
itu-itu saja, sepanjang hari krupuk dll) teman-teman makan
saja tanpa banyak mengeluh. Saya kira "tanpa banyak
mengeluh" point penting dalam proses pendidikan apapun
dan di mana pun.
Perihal fasilitas, khususnya air wow.sangatlah minim
pada waktu itu. Seminggu kami kerap beberapa kali harus
mandi ke sungai. Indahnya, ya kami senang-senang saja.
Malah saya ada kesempatan pulang ke rumah ha..ha,
kebetulan rumah dekat seminari sana.. Walaupun demikian,
semua jadwal berjalan on time. Sekalipun mandi ke sungai,
acara berikutnya jalan terus tidak boleh terlambat ! Bagi yang
terlambat pasti ditunggu praefect dengan ganjaran tersendiri,
maksud saya hukuman yang cukup mendidik: gembalakan
kambing setiap tidur siang, bersihkan sarang laba-laba di
kelas atau gosok wc sampai kinclong ..
Seminariku: Harapan ke Depan
"Ite et docete omnes gentes" (pergi dan ajarlah semua
bangsa.). Itulah kalimat yang kerap diulang-ulang Rm.
Shadeg bila mengajar Sejarah Gereja. Pengajaran tetap sama,
yang berbeda tentu situasi, system, pengajar dan yang diajar.
Saya kira inilah tantangan seminari kita ke depan: menjawabi
kebutuhan Gereja sesuai dengan jamannya, wow.keren kan?
Fakta bahwa siswa seminaris jumlahnya menurun, saya
kira sangat masuk akal. Bagaimana tidak menurun, wong dulu
tahun 80-an satu keluarga masih punya anak 4-5, sekarang
paling banter 2, bahkan tidak jarang hanya satu, itupun
adopsi. Bisa dibayangkan.! Saya kira ke depan kita tidak
perlu ngoyo-ngoyo seminari siswanya banyak, secukupnya
saja atau mungkin sedikit tapi memang dibina dengan
maksimal. Maksimal tentunya dapat diterjemahkan macam macam.
Bagi saya: ditanamkan semangat kerja, bermental
tidak gampang mengeluh, dan tentu punya kemampuan
berpikir, berelasi dan berkreasi yang memadai!
Tidak jarang faktor dana menjadi hal yang pelik dan serius,
memang ya!
Selama ini di Keuskupan Denpasar ada kolekte
untuk seminari, kalau tidak salah tiap minggu ke 5, yang
sampai sekarang saya belum pernah lihat laporannya dari
Keuskupan, apa kolekte dari paroki-paroki itu sampai apa
tidak?
Proyek sepanjang masa adalah: tenaga pembina di
seminari. Selama ini saya bersyukur ada teman-teman Imam
yang telah mau bertugas di Seminari, teruskan! Mungkin perlu
dipikirkan ke depan untuk mempersiapkan atau mengkader
para Pembina, khususnya dengan studi lanjut ilmu-ilmu
sosial seperti psikologi, managemen, arsitektur, dan hukum
misalnya. Selama ini kita/keuskupan hanya kirim imam untuk
studi lanjut hanya kalau ada beasiswa, itupun hanya teologi.
Teologi amat penting! Teologi akan lebih efektif bila dipadukan
dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Lha, kalau tidak ada beasiswa
berarti tidak akan ada imam yang studi lanjut. Apakah seluruh
umat keuskupan Denpasar tidak ada yang mampu untuk
menyumbang studi imam-imam mereka? Atau hanya ada umat
yang mau dan mampu nyumbang pembangunan gedung
gereja? Inilah tantangan dan tugas berat Pembina seminari ke
depan, tugas berat keuskupan kita! (Rm. Y.B. Komang Suryana, Pr)
Seminari Menengah Roh Kudus (
Holy Spirit Minor Seminary )