buton-A1
Website: http://www.bali-seminary.org/   Email: dmbenedict2001@yahoo.com
butonfc
buton1
buton2
buton3
buton4
buton5
buton6
buton7
buton8
buton9
buton10
buton11
buton12
buton13
buton14
buton16
buton-h1 buton-h2 buton-h3 buton-h4 buton-h5


Artikel Khusus
Berisi artikel-artikel pilihan.

VISI Seminari Tuka 2010
Dikutip dari majalah Agape edisi April 2008


Romo Deni

Ada apa dengan 2010? Itulah target waktu untuk mencapai apa yang diimpikan. Apakah yang diimpikan? Mempunyai kelas SMA Seminari sendiri di Tuka. Bila sejak 1981 siswa SMA Seminari mesti bersekolah di SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb maka mulai 2010 mereka akan bersekolah di Tuka. Mengapa langkah ini diambil? Pertimbangan utama: guna memaksimalkan proses pendidikan dan pembinaan para seminaris calon imam di Seminari Tuka. Soal waktu adalah isu sentral. Mulai pagi siswa SMA yang dapat pelajaran olah raga harus buru-buru ke sekolah, akibatnya pembinaan rohani pagi tidak sepenuhnya dapat diikuti. Seusai jam sekolah mereka kerap harus tinggal di sekolah guna mengikuti les, remidi atau ekstra-kurikuler lainnya di sore hari. Banyak kegiatan pembinaan tak sepenuhnya bisa diikuti. Belum lagi jarak 3,8 km ke sekolah setiap hari dan terbatasnya sarana transportasi. Tersebarnya siswa seminari di beberapa kelas sangat mengurangi kebersamaan mereka sehari-hari. Dampaknya: kesulitan memberikan pelajaran khusus Seminari bagi mereka. Beban pelajaran pagi dengan pekerjaan rumah, ditambah les ini dan itu membuat mereka sudah terlalu lelah di malam hari untuk lagi mendapatkan pelajaran tambahan khas Seminari. Kondisi ini nyaris menjadikan SMA Seminari Tuka tak lebih dari sebuah asrama biasa. Kalaupun pelajaran seminari itu tetap dipaksakan, tidak punya nilai tawar karena tak menentukan naik tidaknya siswa seminaris.

Bangunan lama ini akan di-renovasi menjadi Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA.
Bangunan lama ini akan di renovasi menjadi Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA.

Semua fakta telanjang ini adalah latar yang mendorong ditempuhnya langkah strategis membuka kelas SMA Seminari di Tuka. Mengapa 2010? Gagasan untuk punya SMA sendiri sebetulnya sudah lama dipikirkan dari mula dibukanya asrama SMA Seminari. Paling santer ketika Rm. Wanta menjabat Rektor saat peringatan 50 tahun Seminari Tuka tahun 2003. Keburu pindah, idenya belum terwujud. Kini 5 tahun sejak perayaan besar itu, patutlah ditetapkan target waktu yang memacu kita semua untuk segera mewujudkannya.

Denah Kompleks Seminari Tuka.
Denah Kompleks Seminari Tuka.

Kompetensi Seminari Tuka Apa yang dibutuhkan bagi terealisasinya mimpi itu? Pertama-tama adalah menyediakan gedung kelas. Mengapa bangunan fisik? Karena memang kekurangan ruangan. Ada 4 kelas yang dibutuhkan. 3 kelas untuk SMA, dan 1 lagi untuk KPA (Kelas Persiapan Atas). Direncanakan dibangun di lokasi kelas yang dibangun tahun 1955 oleh Pater Shadeg. Bangunan itu terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama berisi 4 kelas. Lantai kedua berisi ruang perpustakaan, laboratorium bahasa, dan ruang komputer. Sedangkan di lantai tiga akan diisi ruangan multi-function (aula).

Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA yang diimpikan, diharapkan dapat terwujud tahun 2010.
Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA yang diimpikan, diharapkan dapat terwujud tahun 2010.

Susunan ruangan di lantai dua merupakan kompetensi (keunggulan) yang ingin dikembangkan di Seminari Tuka. Dengan perpustakaan yang memadai kami ingin mengembangkan kompetensi reading comprehension. Setiap seminaris dituntut memiliki kecintaan membaca yang tinggi serta kemampuan memahami apa yang dibaca dengan baik. Menurut Human Development Index (HDI) 2006, kemampuan membaca orang Indonesia ada di urutan 174 di dunia. Di urutan 47 Asia, di bawah Vietnam. Karena itu sudah seharusnya kompetensi ini yang perlu untuk dikedepankan di Seminari Tuka. Seminaris calon imam kelak akan studi filsafat dan teologi. Dua disiplin yang memakai metode spekulatif yang mesti ditunjang dengan studi kepustakaan yang tekun dan kemampuan refleksi yang tinggi. Hal ini hanya bisa terwujud bila mereka punya kompetensi membaca yang baik. Seandainya mereka memilih tidak melanjutkan ke Seminari Tinggi, kompetensi itu berguna untuk menunjang minat mereka untuk belajar pribadi maupun di bangku kuliah. Dengan laboratorium bahasa kompetensi yang disasar adalah ketrampilan berbahasa asing, minimal bahasa Inggris. Ketrampilan ini merupakan sesuatu yang sudah diandaikan di perguruan tinggi. Setiap calon mahasiswa diandaikan sudah bisa berbahasa Inggris, menimal membaca dalam bahasa Inggris. Dalam kenyataan hal itu tidak terjadi. Lihat saja karya tulis para mahasiswa kita, jauh dari bermutu karena ketiadaan sumber dan referensi. Hal itu disebabkan karena kurangnya kemampuan berbahasa asing dan rendahnya minat baca di kalangan para mahasiswa kita.

Fasilitas yang dicita-citakan: Perpustakaan, Laboratorium Bahasa, Ruang IT.
Fasilitas yang dicita-citakan: Perpustakaan, Laboratorium Bahasa, Ruang IT.

Dengan fasilitas komputer yang memadai, kompetensi yang diangkat adalah kemampuan dasar mengoperasikan komputer. Kemampuan ini menjadi penunjang bagi mereka yang ke Seminari Tinggi maupun kuliah di perguruan tinggi non seminari. Selain itu banyak seminaris berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Seringkali karena tak melanjutkan ke Seminari Tinggi, merekapun tak bisa kuliah karena tiadanya biaya. Mereka terpaksa masuk ke dunia kerja. Kemampuan berbahasa asing dan mengoperasikan komputer akan sangat menunjang mereka mendapatkan pekerjaan. Suatu ketika dengan terkumpulnya uang, mereka hendak kuliah, tak akan terlalu kesulitan karena ditopang dengan kecintaan mereka akan membaca.

Motivator Mungkinkah itu? Mungkin, bila didukung tenaga pendidik dan pembina yang cukup. Kualitas pendidik dan pembina Seminari ditentukan oleh kemampuan mereka dalam mendorong para seminaris untuk mencintai studi, doa, olah raga, dan kehidupan bersama. Singkatnya, yang dibutuhkan bukan saja pendidik dan pembina yang handal, tapi juga yang bisa memotivasi.

Seringkali siswa diajar tentang yang baik dan benar, tapi kurang diajak untuk mencintai dan melakukan apa yang baik dan benar itu. Seminari membutuhkan para motivator! Peran motivator ini tidak tergantikan mengingat beratnya mewujudkan 3 kompetensi di atas. Simak saja semangat jaman ini yang mengedepankan budaya gambar (image/virtual) yang melahirkan keasyikan dalam menonton, melihat, dan mengintip (veyeurisme). John Naisbitt dalam Mindsets (2007) meyakinkan kita akan merebaknya budaya ini. Jatuhnya industri buku, menurunnya angka penerbitan buku baru, maupun terbitnya novel-novel lama dalam kemasan komik bergambar, adalah beberapa gejala yang dicatat Naisbitt. Mengedepankan budaya membaca di kalangan para seminaris tentu sebuah upaya melawan arus. Dari sharing para ex-seminaris baik tempo doeloe maupun masa kini, tertahbis maupun non tertahbis, terungkap bahwa kenangan melekat yang mereka ingat bukanlah pelajaran yang seabrek dan canggih, tapi justru kedisiplinan yang diterapkan di seminari. Kedisiplinan itulah yang membentuk cara berpikir kritis maupun karakter gigih rata-rata para seminaris.

Berbeda dengan penganut model pendidikan konstruktivisme, Seminari mesti tetap menampilkan model disiplin yang ketat. Kebebasan dalam pendidikan lebih kerap melahirkan siswa tak berkarakter. Hanya saja model ketat disiplin seminari, tetap membutuhkan motivator.

The Only Catholic Classical School

Apa lagi yang dibutuhkan?

Dukungan dari semua pihak. Selintas terbayang gebyar penggalangan dana untuk merealisasikan Seminari Tuka 2010. Hal itu juga penting. Tapi yang tak kalah penting adalah dukungan para orang tua dan pastor paroki. Perlu disadari bahwa Seminari adalah satu-satunya sekolah katolik yang klasik. Dengan berlakunya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional maka kekhasan sekolah katolik jadi semakin redup. Seminarilah satu-satunya sekolah yang tersisa untuk mendidik putera gereja menjadi orang katolik sejati. Banyak orang tua tidak melihat nilai lebih ini dan memilih kualitas intelektual semata yang ditawarkan sekolah-sekolah lain bagi anak-anak mereka. Berhasilnya program KB, suami-istri bekerja, fasilitas keluarga yang lengkap, tabungan uang yang banyak, tapi menghasilkan generasi TPA (tempat penitipan anak). Kondisi ini melahirkan perasaan bersalah pada orang tua terhadap anak-anak yang kerap mereka tinggal. Akibatnya, dalam rekreasi, liburan, atau pemilihan sekolah, orang tua cenderung akan menuruti kemauan anak (children driven school). Fakta ini tentu berdampak pada minat masuk seminari. Dulu peran orang tua begitu sentral dalam merekayasa dan mengarahkan anak masuk seminari. Anak disiapkan lewat serangkaian kegiatan. Doa keluarga, misdinar, latihan koor, dll. Dari situ lahir banyak panggilan. Hal ini perlu diungkap di sini untuk menyadarkan para orang tua. Namun pihak seminari bukan berarti terbebaskan. Seminari harus bisa menjadi sekolah yang diminati oleh anak-anak. Tembok seminari yang tebal dan angker, fasilitas bermain dan olah raga yang terbatas tentu akan menjauhkan para peminat. Analoginya mungkin bagaimana mengupayakan Seminari selalu menarik seperti sebuah mall atau restaurant. Selalu menampilkan hal baru, inovatif, kreatif dan terus belajar. Mungkin bila Seminari Tuka 2010 terkesan hanya soal gedung fasilitas, itu juga sebuah upaya memakai grammar masa kini untuk mengemas mutu. Bila tidak Seminari hanyalah sebuah museum yang dipelihara selama 55 tahun yang kian ditinggalkan.

 


Seminari Menengah Roh Kudus ( Holy Spirit Minor Seminary ) Tuka - Dalung - Bali - Indonesia

  Jumlah Pengunjung: