|
Ada apa dengan 2010? Itulah target waktu untuk mencapai apa
yang diimpikan. Apakah yang diimpikan? Mempunyai kelas
SMA Seminari sendiri di Tuka. Bila sejak 1981 siswa SMA
Seminari mesti bersekolah di SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb
maka mulai 2010 mereka akan bersekolah di Tuka. Mengapa
langkah ini diambil? Pertimbangan utama: guna memaksimalkan
proses pendidikan dan pembinaan para seminaris calon imam
di Seminari Tuka. Soal waktu adalah isu sentral. Mulai
pagi siswa SMA yang dapat pelajaran olah raga harus buru-buru
ke sekolah, akibatnya pembinaan rohani pagi tidak sepenuhnya
dapat diikuti. Seusai jam sekolah mereka kerap harus tinggal
di sekolah guna mengikuti les, remidi atau ekstra-kurikuler
lainnya di sore hari. Banyak kegiatan pembinaan tak sepenuhnya
bisa diikuti. Belum lagi jarak 3,8 km ke sekolah setiap
hari dan terbatasnya sarana transportasi. Tersebarnya
siswa seminari di beberapa kelas sangat mengurangi kebersamaan
mereka sehari-hari. Dampaknya: kesulitan memberikan pelajaran
khusus Seminari bagi mereka. Beban pelajaran pagi dengan
pekerjaan rumah, ditambah les ini dan itu membuat mereka
sudah terlalu lelah di malam hari untuk lagi mendapatkan
pelajaran tambahan khas Seminari. Kondisi ini nyaris menjadikan
SMA Seminari Tuka tak lebih dari sebuah asrama biasa.
Kalaupun pelajaran seminari itu tetap dipaksakan, tidak
punya nilai tawar karena tak menentukan naik tidaknya
siswa seminaris.
Bangunan lama ini akan di renovasi menjadi Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA.
|
Semua fakta telanjang ini adalah latar yang mendorong
ditempuhnya langkah strategis membuka kelas SMA Seminari
di Tuka. Mengapa 2010? Gagasan untuk punya SMA sendiri
sebetulnya sudah lama dipikirkan dari mula dibukanya asrama
SMA Seminari. Paling santer ketika Rm. Wanta menjabat
Rektor saat peringatan 50 tahun Seminari Tuka tahun 2003.
Keburu pindah, idenya belum terwujud. Kini 5 tahun sejak
perayaan besar itu, patutlah ditetapkan target waktu yang
memacu kita semua untuk segera mewujudkannya.
Denah Kompleks Seminari Tuka.
|
Kompetensi Seminari Tuka Apa yang dibutuhkan bagi terealisasinya
mimpi itu? Pertama-tama adalah menyediakan gedung kelas.
Mengapa bangunan fisik? Karena memang kekurangan ruangan.
Ada 4 kelas yang dibutuhkan. 3 kelas untuk SMA, dan 1
lagi untuk KPA (Kelas Persiapan Atas). Direncanakan dibangun
di lokasi kelas yang dibangun tahun 1955 oleh Pater Shadeg.
Bangunan itu terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama berisi
4 kelas. Lantai kedua berisi ruang perpustakaan, laboratorium
bahasa, dan ruang komputer. Sedangkan di lantai tiga akan
diisi ruangan multi-function (aula).
Gedung 3 lantai untuk sekolah SMA yang diimpikan, diharapkan dapat terwujud tahun 2010.
|
Susunan ruangan di lantai dua merupakan kompetensi (keunggulan)
yang ingin dikembangkan di Seminari Tuka. Dengan perpustakaan
yang memadai kami ingin mengembangkan kompetensi reading
comprehension. Setiap seminaris dituntut memiliki kecintaan
membaca yang tinggi serta kemampuan memahami apa yang
dibaca dengan baik. Menurut Human Development Index (HDI)
2006, kemampuan membaca orang Indonesia ada di urutan
174 di dunia. Di urutan 47 Asia, di bawah Vietnam. Karena
itu sudah seharusnya kompetensi ini yang perlu untuk dikedepankan
di Seminari Tuka. Seminaris calon imam kelak akan studi
filsafat dan teologi. Dua disiplin yang memakai metode
spekulatif yang mesti ditunjang dengan studi kepustakaan
yang tekun dan kemampuan refleksi yang tinggi. Hal ini
hanya bisa terwujud bila mereka punya kompetensi membaca
yang baik. Seandainya mereka memilih tidak melanjutkan
ke Seminari Tinggi, kompetensi itu berguna untuk menunjang
minat mereka untuk belajar pribadi maupun di bangku kuliah.
Dengan laboratorium bahasa kompetensi yang disasar adalah
ketrampilan berbahasa asing, minimal bahasa Inggris. Ketrampilan
ini merupakan sesuatu yang sudah diandaikan di perguruan
tinggi. Setiap calon mahasiswa diandaikan sudah bisa berbahasa
Inggris, menimal membaca dalam bahasa Inggris. Dalam kenyataan
hal itu tidak terjadi. Lihat saja karya tulis para mahasiswa
kita, jauh dari bermutu karena ketiadaan sumber dan referensi.
Hal itu disebabkan karena kurangnya kemampuan berbahasa
asing dan rendahnya minat baca di kalangan para mahasiswa
kita.
Fasilitas yang dicita-citakan: Perpustakaan, Laboratorium Bahasa, Ruang IT.
|
Dengan fasilitas komputer yang memadai, kompetensi yang
diangkat adalah kemampuan dasar mengoperasikan komputer.
Kemampuan ini menjadi penunjang bagi mereka yang ke Seminari
Tinggi maupun kuliah di perguruan tinggi non seminari.
Selain itu banyak seminaris berasal dari keluarga kelas
menengah ke bawah. Seringkali karena tak melanjutkan ke
Seminari Tinggi, merekapun tak bisa kuliah karena tiadanya
biaya. Mereka terpaksa masuk ke dunia kerja. Kemampuan
berbahasa asing dan mengoperasikan komputer akan sangat
menunjang mereka mendapatkan pekerjaan. Suatu ketika dengan
terkumpulnya uang, mereka hendak kuliah, tak akan terlalu
kesulitan karena ditopang dengan kecintaan mereka akan
membaca.
Motivator Mungkinkah itu? Mungkin, bila didukung tenaga
pendidik dan pembina yang cukup. Kualitas pendidik dan
pembina Seminari ditentukan oleh kemampuan mereka dalam
mendorong para seminaris untuk mencintai studi, doa, olah
raga, dan kehidupan bersama. Singkatnya, yang dibutuhkan
bukan saja pendidik dan pembina yang handal, tapi juga
yang bisa memotivasi.
Seringkali siswa diajar tentang yang baik dan benar,
tapi kurang diajak untuk mencintai dan melakukan apa yang
baik dan benar itu. Seminari membutuhkan para motivator!
Peran motivator ini tidak tergantikan mengingat beratnya
mewujudkan 3 kompetensi di atas. Simak saja semangat jaman
ini yang mengedepankan budaya gambar (image/virtual) yang
melahirkan keasyikan dalam menonton, melihat, dan mengintip
(veyeurisme). John Naisbitt dalam Mindsets (2007) meyakinkan
kita akan merebaknya budaya ini. Jatuhnya industri buku,
menurunnya angka penerbitan buku baru, maupun terbitnya
novel-novel lama dalam kemasan komik bergambar, adalah
beberapa gejala yang dicatat Naisbitt. Mengedepankan budaya
membaca di kalangan para seminaris tentu sebuah upaya
melawan arus. Dari sharing para ex-seminaris baik tempo
doeloe maupun masa kini, tertahbis maupun non tertahbis,
terungkap bahwa kenangan melekat yang mereka ingat bukanlah
pelajaran yang seabrek dan canggih, tapi justru kedisiplinan
yang diterapkan di seminari. Kedisiplinan itulah yang
membentuk cara berpikir kritis maupun karakter gigih rata-rata
para seminaris.
Berbeda dengan penganut model pendidikan konstruktivisme,
Seminari mesti tetap menampilkan model disiplin yang ketat.
Kebebasan dalam pendidikan lebih kerap melahirkan siswa
tak berkarakter. Hanya saja model ketat disiplin seminari,
tetap membutuhkan motivator.
The Only Catholic Classical School
Apa lagi yang dibutuhkan?
Dukungan dari semua pihak. Selintas terbayang gebyar
penggalangan dana untuk merealisasikan Seminari Tuka 2010.
Hal itu juga penting. Tapi yang tak kalah penting adalah
dukungan para orang tua dan pastor paroki. Perlu disadari
bahwa Seminari adalah satu-satunya sekolah katolik yang
klasik. Dengan berlakunya Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional maka kekhasan sekolah katolik jadi semakin redup.
Seminarilah satu-satunya sekolah yang tersisa untuk mendidik
putera gereja menjadi orang katolik sejati. Banyak orang
tua tidak melihat nilai lebih ini dan memilih kualitas
intelektual semata yang ditawarkan sekolah-sekolah
lain bagi anak-anak mereka. Berhasilnya program KB, suami-istri
bekerja, fasilitas keluarga yang lengkap, tabungan uang
yang banyak, tapi menghasilkan generasi TPA (tempat penitipan
anak). Kondisi ini melahirkan perasaan bersalah pada orang
tua terhadap anak-anak yang kerap mereka tinggal. Akibatnya,
dalam rekreasi, liburan, atau pemilihan sekolah, orang
tua cenderung akan menuruti kemauan anak (children driven
school). Fakta ini tentu berdampak pada minat masuk seminari.
Dulu peran orang tua begitu sentral dalam merekayasa
dan mengarahkan anak masuk seminari. Anak disiapkan lewat
serangkaian kegiatan. Doa keluarga, misdinar, latihan
koor, dll. Dari situ lahir banyak panggilan. Hal ini perlu
diungkap di sini untuk menyadarkan para orang tua. Namun
pihak seminari bukan berarti terbebaskan. Seminari harus
bisa menjadi sekolah yang diminati oleh anak-anak. Tembok
seminari yang tebal dan angker, fasilitas bermain dan
olah raga yang terbatas tentu akan menjauhkan para peminat.
Analoginya mungkin bagaimana mengupayakan Seminari selalu
menarik seperti sebuah mall atau restaurant. Selalu menampilkan
hal baru, inovatif, kreatif dan terus belajar. Mungkin
bila Seminari Tuka 2010 terkesan hanya soal gedung fasilitas,
itu juga sebuah upaya memakai grammar masa kini untuk
mengemas mutu. Bila tidak Seminari hanyalah sebuah museum
yang dipelihara selama 55 tahun yang kian ditinggalkan.
|